Rabu, 10 Desember 2014

JEBAKAN PSEUDO-SAINS: UPAYA MENGAKOMODASI SAINS KE DALAM IMAN DAN JUGA IDEOLOGI



Di dalam salah satu bagian dari buku/tulisan Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas: Antara Sains dan Ortodoksi Islam terdapat sub judul “Mungkinkah Ada Sains Marxsis?”. Membuka sub judul ini, penulis buku tersebut mengatakan bahwa relevan, dalam hubungannya membicarakan sains Islam, melihat pergumulan sains dari ideology yang berbeda. Barangkali sebelum lebih lanjut kita akan mengulangi perihal pembedaan ideology di antara Islam dan Marxsisme.


Pada aras ontology, marxsisme dan Islam—dengan demikian agama pada umumnya—berbeda jalan. Agama wahyu mengakui keberadaan Tuhan sebagai substansi immaterial yang terpisah dari alam semesta material. Sedangkan marxsisme berpegang pada pemahaman bahwa segala sesuatu yang immaterial hanya mungkin ‘ada’ sebagai sifat dari substansi material. Maka, pengertian transenden tentang Tuhan yang terdapat dalam agama-agama wahyu tidak konsisten dengan Marxsisme.[1]

Memang dalam tradisi marxsisme, ada mazhab tertentu yang menaruh hormat pada teologi atau agama semisal Mazhab Frankfurt. Namun yang dilihat pun adalah agama sebagai fenomena budaya. Artinya agama tetap saja tunduk pada dialektika masyarakat menurut marxsisme.[2] Keduanya, marxsisme dan agama, barangkali bisa bertemu dan seiring sejalan pada ara praktisnya. Terkhusus pada intuisi keduanya akan perihal emansipasi. Teologi Pembebasan salah satu contoh nyata akan itu.

Selanjutnya, penulis buku ini mengungkapkan tentang marxsisme yang mengilhami ilmuwan Soviet era 1930-1960-an. Kira-kira, para ilmuwan Soviet masa itu berusaha menemukan sains yang marxsis yakni berdasarkan epistemology materialism dialektis Marx. Contoh yang diangkat penulis adalah Trofim Lysenko. Lysenko memang kasus pseudo-sains yang paling terkenal dalam sejarah marxsisme. Dikenal dengan Lysenko Affair. Ia adalah seorang ahli biologi. Lysensko muncul dengan pandangan yang melawan teori Mendel yang mengatakan bahwa keturunan ditentukan oleh genetika. Lysenko menganggap bahwa hal itu muncul lantaran interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Namun teori ini terbukti salah oleh ahli biologis.

Stalin, pemimpin Soviet ketika itu, terpesona dengan ide Lysenko ini. Bahkan Stalin mengakomodir ‘eksperimen keilmiahan yang sosialis’ ini. Namun, ia terbukti gagal. Dari contoh ini, penulis menunjukkan bahwa tak ada sains yang tunduk pada ideology. Pada bagian sebelumnya ia pun mengatakan tak ada sains islam. Artinya secara vulgar bisa dikatakan tak ada sains yang tunduk pada iman. Saya akan melanjutkan perkara ini dengan menjernihkan perihal sains marxsisme.

Lysenko hanyalah salah satu dari contoh pseudo-sains[3] dalam marxsisme. Salah satu contoh yang lain adalah Nicholas Marr dalam linguistic. Ia menempatkan linguistic dalam suprastruktur mengikuti juga materialism dialektis. Kritik terhadap Marr justru datang dari Stalin yang mengatakan bahwa bahasa berada di luar skema kelas. Ia tidak ditentukan oleh mekanisme materialism dialektis. Justru ia berada mendahului hal itu.[4] Kesimpulan selanjutnya bahwa marxisme adalah teori umum tentang perkembangan masyarakat; ia bukan teori akan segala sesuatu. Tidak semua hal dibahas oleh marxisme; gerak atom, grafitasi, misalnya. Apa yang dilakukan Lysenko adalah pemaksaan atas bidang ilmu di luar marxisme untuk masuk dalam skema marxisme. Galibnya, marxisme belajar dari ilmu-ilmu yang tak terjangkau olehnya itu. Dalam kasus sains agama Islam barangkali menjadi lebih sulit. Karena ia dilandasi sebuah kepercayaan akan sesuatu yang supra-material. Jika sains berhadapan dengan iman, jelas, sains akan berkata bahwa itu berada di luar kapasitas sains. Nah, bagaimana sekarang agama pada umumnya dan Islam pada khususnya melihat sains. Ketika misalnya ilmuwan Islam, ilmuwan Katolik, ilmuwan atheis melakukan penelitian akan hal yang sama dengan metode dan cara kerja yang sama membuahkan hasil yang sama, apakah agama ‘berkemungkinan’ jatuh pada pseudo-sains dalam rupa demikian: ‘semuanya sudah diatur dari Yang Di Atas'?



[1] Martin Suryajaya, Marxsisme dan Ketuhanan yang Maha Esa, http://indoprogress.com/2013/12/marxisme-dan-ketuhanan-yang-maha-esa/
[2] Berto Tukan, “Teologi sebagai Pelayan Kesosialan”, Jurnal Melintas, 29.3.2013.
[3] Ilmu semu atau pseudosains (Inggrispseudoscience) adalah sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tapi tidak mengikuti metode ilmiah. Ilmu semu mungkin kelihatan ilmiah, tapi tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah yang dapat diuji dan seringkali berbenturan dengan kesepakatan/konsensus ilmiah yang umum.
[4] Lebih jelasnya lihat Martin Suryajaya, Pascamodernis dari Kremlin, http://indoprogress.com/2014/10/pascamodernis-dari-kremlin/

1 komentar:

Alamanda mengatakan...

Kadang, memang harus dipasdai gan informasi yang ada. Nice info gan ^^