Tampilkan postingan dengan label isengiseng sastra (cerpen). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label isengiseng sastra (cerpen). Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

Hadiahmu Untukku di Hari Ulang Tahunmu


Telah dekat hari ulang tahunmu, Pacarku. Tentu saja aku akan menyiapkan sebuah hadiah untukmu. Ah, inilah saat-saat sulit yang telah menjadi konsumsi kecemasan otakku jauh-jauh hari sebelumnya. Aku termasuk jenis laki-laki yang tak bisa memilihkan sebuah hadiah dengan tepat. Memang, aku mengenal beraneka pernak-pernik hadiah; kue cokelat, sebuket bunga, selingkar cincin, kalung, bandana untuk rambutmu yang terurai, arloji mungil, boneka lucu, dan mungkin sehelai baju. Tetapi, pengetahuanku tentang mereka hanya berupa setarikan asap rokok saja, bukan sehisapan sebatang rokok.
Ada sebuah benda yang begitu kukenal. Kamu telah lama tahu tentang itu dan sering juga mengomel karenanya; buku. Bukulah satu-satunya benda yang sangat kukenal lekak-lekuknya, saat ini.
“Kamu kok cuma mikirin buku mulu sih? Emangnya apa aja yang diberikan buku buat kamu; selain nilai test jelek, uang saku cepat habis, tak pernah traktir. Kamu make kacamata kan karena buku juga? Aku heran sama kamu! Hu, begitu bangganya dengan sebutan Predator Buku.”
Yah… begitulah, Sayang. Kamu tahu, mungkin cuma bukulah yang sangat bisa kupahami. Dari aroma buku mana yang paling enak dibaui, rasanya yang selezat masakan ibu tercinta, warnanya yang menarik, harga yang cocok, tempat-tempat terterang sampai paling tersembunyi yang bisa didatangi untuk mencarinya, sampai pada singgasananya di kamar pun (tentang singgasana ini, aku sudah membayangkannya; buku yang akan kuberikan sebagai hadiah buatmu, harus kamu letakkan di sudut utara kamarmu, tepat di dalam pelukan boneka beruang kesayanganmu) aku ahli merancangnya.
***
Hari ulang tahunmu. Kita bersepakat tanpa kata terucap, ber-candle light dinner di sebuah restoran di pinggir Margonda Raya. Restoran ini punya dua ruangan berbeda. Yang satu dibatasi tembok-tembok, sedangkan yang lainnya hanya dipagari pagar kayu setinggi pinggang kita. Dan tentu saja, yang kedua menjadi pilihan kita.
Pengunjung tidak ramai benar, malam ini. Maklum saja, hari ini bukan akhir pekan; waktu yang tepat bagi masyarakat pekerja merayakan sepekan kerja mereka. Hingga, kita pun bisa dengan leluasa memilih meja terujung. Di bawah kita, sejauh mata memandang, terlihat pohon-pohon mulai menghitam hijaunya oleh persetubuhan waktu dan kelam. Di antara hijau yang menghitam itu, terlihat pendar kekuningan dan putih dari lelampu yang mulai dinyalakan. Petanda, penghuni kompleks perumahan Depok Indah mulai membenah diri menyambut malam. Dan dari ketinggian, kita terpesona oleh kilau getar kehidupan di bawah sana.
Inilah pemandangan indah yang jarang kita temui. Maklum, hari-hari kita selalu dipenuhi dengan sumpeknya perkampungan Jakarta, yang terkadang membuat kita rindu untuk mengunci kamar, lalu berdua saja kita habiskan waktu seharian.
“Ah, serasa di puncak,” katamu diiringi senyum yang selalu membuatku pengen tersenyum seribu kali.
Kamu memesan menu spesial yang disajikan restoran ini. Tentu saja aku hanya bisa mengekor pesananmu (sejak kapan sih aku bisa menjadi seorang pemilih menu makanan yang handal?).
Aku memperhatikan gemulai tanganmu yang menyumpit mie dari mangkok. Lalu, perhatianku
beralih pada tarian dua belah bibirmu yang menjepit mie. Kamu menelannya dengan menggerakkan kedua ujung bibirmu ke dalam, mendekati gigi. Ah, pasti kamu tak sadar, bibirmu jadi begitu enak untuk dipandang saat ini.
Kontinyu! Gerakan tangan dan bibirmu terus berulang. Memenjara perhatianku. Membuat pesananku cuma bengong menunggu giliran untuk dicicipi.
Ujung-ujung rambutmu jatuh disamping leher, menyentuh pundak bajumu yang berwarna jingga. Ada juga beberapa helainya menghiasi atas dadamu yang halus, kuning keputihan. Terkadang ujung rambutmu yang menyebarkan wangi tetumbuhan, bergerak-gerak oleh sapuan angin.
Aktifitas memakan miemu berhenti mendadak. Kamu pandangi aku.
“Kenapa mienya nggag dimakan?” katamu.
“Aku sedang berdoa, Tri. Melantumkan seberkas harapan tentang kita, yang mungkin bila kuucapkan dihadapanmu, kamu akan mencapku ‘gombal’. Yah sudah, aku ucapkan itu di hadapan Tuhan saja. Setidak-tidaknya — bila Ia pun menilaiku gombal — suara-Nya kan tak bisa kudengar!?”
Kamu menggelengkan kepala dengan halus, ditimpali sekilas senyum. Aku bisa menebak, apa kata hatimu bila menggeleng dan tersenyum sekilas itu; “dasar gila!”. Tersenyum lagi dan melanjutkan memakan miemu.
Tak banyak kata terucap dariku hari ini. Kita sudah jalan bareng selama dua tahun. Tetapi kebersamaan kita tetap seperti ini-ini saja. Untuk itu, aku harus berterima kasih padamu. Kamu telah menerimaku apa adanya dan tak pernah ingin untuk merubahnya. Itulah penilaianku! Mungkin penilaian orang lain beda. Atau perasaanmu pun beda. Mungkin juga penilaianku salah, tak sesuai keadaan sebenarnya. Bisa jadi, kamu sering berucap kekesalan tentangku di forum-forum curhatmu. Mungkin kamu juga punya pacar lain, selain aku?! Bisa saja bukan?
Ah, persetanlah dengan kemungkinan-kemungkinan-kemungkinan itu. Yang penting, engkau selalu hadir dengan kesempurnaanmu dalam hati dan pikiranku. Persetan dengan syak wasangka, pandangan orang lain, persetan pula dengan kenyataan-kenyataan lainnya, bahkan persetan pula dengan perasaanmu yang mungkin berbeda dengan penilaianku. Bukankah kamu yang ada di dalam hati dan pikiranku adalah realitas juga untuk diriku dan untuk sebuah dunia kecilku?
***
Tahun lalu, saat ultahmu yang kedelapan belas, aku menghadiahkanmu sebuah boneka kelinci. Sekarang entah di mana boneka itu. Aku tak pernah bertanya tentangnya lagi, kamu pun tak pernah berceritera lagi tentang boneka kelinci yang kubeli di Blok M itu.
Boneka itu aku beli setelah terlebih dahulu berkonsultasi pada seorang temanku. Ia memang telah terkenal dengan kisah-kisah cintanya yang mendebar-debarkan. Maka, sering ia dijadikan tempat berkonsultasi cinta oleh anggota geng kami. Jadi, boneka itu bukan hadiah dariku untukmu saja. Melainkan hadiah dari aku dan temanku untukmu.
Tahun ini aku tak mau terus-menerus mematikan inderaku. Aku tak mau lagi bertanya pada orang lain. Aku bertekad membeli sebuah hadiah untukmu yang dipilih hati dan pikiranku sendiri tanpa berkonsultasi dengan orang lain atau setelah repot membolak-balik buku-buku petunjuk bercinta.
Bergentayanganlah aku di beberapa mall, bolak-balik di counter-counter pernak-pernik hadiah, mondar-mandir di eskalator, nongkrong di lift…. Namun sampai kaki ini penat dan tubuh ini merinding lemas, aku belum menemukan hadiah yang cocok untukmu.
Malah kudapati diriku sedang asyik melihat-lihat buku yang terpajang di rak-rak sebuah toko buku kecil. Aku betul-betul capek waktu itu, Sayang. Aku ingin mengaso sejenak; membaui aroma buku di sekitarku, membersihkan mataku dengan beraneka warna gambar sampul buku.
Aku mulai mengambil buku itu satu-persatu, sebuah kebiasaan yang tak pernah bisa dikekang. Kubaca! Kuhabiskan sejamku di sana. Terhanyut dalam ceritera, mengunjungi tempat-tempat terjauh dari dunia, pengembaraan sukmaku mengasyik saat itu. City of Love and Ashes bawa aku mengunjungi belantara cinta di Mesir, kala perang, kala perjuangan bertubrukan dengan keinginan diri. “Buku bagus,” bisik hati kecilku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun membeli buku itu. Dan hati langsung berkata; inilah hadiah untukmu.
Yah, menurut orang kebanyakan, buku adalah sebuah hadiah yang paling netral. Tak bisa mewakili perasaan sang pemberi. Menurutku mereka salah. Dengan memberimu buku ini, aku berharap (mungkin sebuah harapan yang teramat muluk) kamu akan selalu setia bersamaku, walau hal itu akan membawamu pada beberapa konsekuensi hidup yang sangat tak menyenangkan.
***
“Mana hadiahnya??” Kata-katamu yang selalu manja, pasti akan menghentikan segala lamunan, pengembaraan sukma, dan segala aktifitas berpikir otakku. Yah, kamu selalu mampu membawaku kembali ke bumi yang real, entah semabuk apa aku dengan segala alkohol otak ini.
Ku keluarkan buku itu dari tasku. Tak ada sampul kertas kado atau pita merah muda. Dengan hati yang sedikit cemas dan tangan yang bergetar, kuberikan buku itu padamu. Kau menerimanya (tentu dibarengi senyum indahmu)! Ingin kulayangkan juga hadiah kecupan tulus untukmu, wakil dari pijar-pijar tak bernamaku. Lagi-lagi, peraturan darimu dan keengganan melanggar peraturan itu, menghentikanku. Ah, basi! Tak ada keromantisan apa-apa! Pacaran macam apa ini? Hatiku berumpat. Tapi kulihat kamu, asyik-asyik saja. Seakan-akan telah memaklumi segala kekurangan yang harus kita terima. Misteri apa lagi yang kamu sembunyikan?
Hari beranjak ke jam setengah delapan malam. Dan kita harus pulang kira-kira setengah jam lagi. Itu peraturan yang kamu buat kira-kira sembilan bulan yang lalu. Saat itu, aku begitu menyesal telah memacarimu. Ingin kuputuskan hubungan kita saat itu juga. Kau tak memberi kebebasan dan kesempatan untuk nakalku beraksi. Tapi, sekali lagi senyummu, sikapmu, parasmu, rambutmu, kulitmu, kukumu, matamu, dan segala-mu lainnya, memborgol ide gilaku.
Kita menjalani waktu dengan berpegang pada peraturan-peraturanmu. Lambat laun aku jadi mengerti. Pagar yang kamu buat adalah pagar yang bakalan mengajari “nakal” lain yang timbul dari pijar-pijar perkelahian hati dan pikiranku. Pijar-pijar seperti ini, pasti telah meracuni banyak ceritera hidup sebelum ceritera hidup kita. Sehingga, janganlah heran bila ia punya banyak nama dan penggambaran. Karena dalam sebuah periode kehidupan, selalu akan ada segelintir orang yang merelakan waktunya untuk menyepi dan menghayati pijar-pijar ini secara mendalam dan utuh. Merekalah para ‘tukang kata’ yang selalu menempuh jalan yang sunyi, sambil mengkreasikan beraneka rupa ungkapan jiwa!
In My Place dari Cold Play, terdengar dari loud speaker yang ada di dinding dan tongkat penyangga atap rumah makan.
Apakah mereka yang bekerja di tempat ini punya pengetahuan Bahasa Inggris yang terbatas, sehingga lagu itulah yang diputar di malam yang butuh keromantisan ini?
Aha, bisa jadi di antara mereka ada yang sedang berkisah cinta juga. Mungkin kisah yang tak kesampaian? Maka ia memutar lagu penantian itu, sekedar untuk menguatkan komitmen cintanya atau untuk meruntuhkan kepongahan orang yang ditaksirnya. Atau mungkin sebagai pelarian perasaan?
Bukankah sebuah lagu kadang-kadang bisa membuat kita meloncat-loncat, memelintir-pelintir kepala, mengacung-acungkan tangan, berteriak dengan suara keras semampu kita, membuat kita tertidur dengan enak? Lantaran melodi dan syairnya mewakili sepenggal pengalaman hidup kita. Tetapi, tentu saja tak ada satu lagu pun yang sanggup menuntaskan sebuah kenangan hidup kita dalam beberapa menit durasinya. Karena itulah, kita masih saja memburu lagu-lagu baru untuk memperbanyak koleksi hiburan jiwa kita.
***
Aku menggandengmu ke kost-kostanmu. Sebuah Suzuki Carry merah kecoklatan diparkir di dekat pintu pagarnya. Kamu buka pintu pagar! Aku beranjak hendak masuk bersamamu. Bukankah inti perayaan ultahmu ada di kamar nomor 11, lantai I, bangunan ini? Kamu pandangi sekilas Suzuki Carry itu.
Kamu bersikeras menahanku untuk tidak masuk. Bagaimana mungkin, Sayang? Aku belum memberi hadiah terindah untukmu. Maka, aku bersikeras untuk ikut masuk.
“Hai, ada tamu tuh. Udah dari tadi nunggunya.” Kata temanmu padamu, sambil memamerkan sekilas senyum yang tampak tak cocok untuk dipelototi.
“Kamu langsung pulang aja, sekarang. Besok kan ada test!! Aku lagi ditunggu tamu tuh!” Katamu, lalu langsung masuk dan menutup pintu pagar.
Aku berbalik! Melangkah menyusuri sepi gang. “Ah, hadiahmu untukku di hari ulang tahunmu, begitu tak menyenangkan!!”
Palmeriam, Oktober 2004

#edisi cerpen jaman cupuy yang masih disimpan di AGENDA 18...

Senin, 03 Juni 2013

SEKADAR CERITA, SEKADAR KENANGAN


Cerpen oleh Berto Tukan


Engkau tak perlu terjaga dari tidur nyenyak malammu untuk mengenang hal-hal yang tak mampu kukenang ini. Begitulah. Salah satu penyakit akutku adalah tidak terlalu memusingkan kenangan-kenangan. Ia menjadi pupuk kehidupan, biarlah ia bermetamorfosis menjadi oksigen untuk hidup, pikirku. Namun mereka terkadang menjadi hantu mimpi-mimpiku. Mereka datang tiba-tiba ketika penatmu berada di titik tertinggi kemampuannya menampakan diri, datang perlahan-lahan, lamat-lamat, lantas menjadi mantra yang berulang tak putus-putus.

Lebih lanjut dengan cerpen ini, silahkan kunjungi Jakartabeat :)

Minggu, 17 Februari 2013

Henry Kecil, Sobat-sobitnya, dan Peta yang Tak Sempurna

Cerpen oleh Berto Tukan

Ketika hembusan angin membuat sebagian serangga yang berdiam di pohon-pohon tua enggan bercengkarama dan bahkan burung-burung dara pun tak mau pergi dari sarangnya, Henry kecil berlari meninggalkan rumahnya. Pedas yang membakar masih terasa di mulutnya. Membakar. Sangat membakar! Henry kecil terus berlari-bergegas. Seakan dengan berlari ia bisa memadamkan api di mulutnya. Seakan dengan berlari, keterbakaran mulutnya bisa tergantikan aroma sejuk pegunungan hijau seperti rasa paper mint. Seakan-akan dengan berlari, api yang membara di mulut, meranggas ke rongga hidung, asapnya memasuki perut, terus membakar mata, dahi, dan rambutnya bisa dipadamkan seketika.

Henry kecil berlari di antara nafas-nafas memburu yang menyeruak dari kamar ayah-ibunya. Henry kecil terus berlari, menjauhi rumahnya. Tak sendirian ia berlari. Ada Susan di sampingnya. Ia memandang Susan yang terengah-engah mengikutinya dari belakang.
“Ayo cepat…. Kita harus mencapai tempat itu sebelum Nenek Bulan memergoki kita. Ayo Susan. Ayo cepat. Kau mau dijadikan pembantu di istana Si Nenek Bulan?”
Henry kecil terus berlari, diajaknya juga Susan berlari cepat. Henry menerjang rerimbunan semak, diinjaknya dua ekor kucing yang tengah main kuda-kudaan.
“Miauuuuuuuw!!!!”
“Awas Susan. Mereka jelmaan penjaga istana Si Nenek Bulan. Injaklah mereka sekali lagi.”
“Ah, kau tak menginjaknya Susan? Baru ingat aku, kau sangat menyayangi kucing. Hati-hati Susan, kita pasti bisa selamat, asalkan kau berlari lebih cepat lagi.”

Selengkapnya dari cerpen ini silah disimak di Jakartabeat

Minggu, 22 April 2012

Kedai Kopi Oriental

CERITA PENDEK
Berto Tukan
Fragmen I
LAKI-LAKI dan perempuan pertengahan 20-an tahun bergandengan masuk ke kedai kopi di ujung jalan. Mereka melepaskan gandengan tangan ketika seorang waitress perempuan di depan pintu menyapa mereka, ”selamat sore,” dengan senyum menawan sedikit genit. Si Perempuan cemberut yang memaksa Si Lelaki mengeluarkan lima enam kalimat rayuan. Mereka mendapat meja di sudut kiri kedai itu. Setelah masing-masing menghunus sebatang rokok dari kotak rokok berwarna hitam berkepala bunga matahari dan setelah waitress datang membawa pesanan; Italian Hot Ekspreso dan Vietnam Ice Coffee, tak ada lagi cemberut, mubasir kalimat rayuan. Mereka seperti sepakat bahwa cinta mereka melampaui kebiasaan Si Lelaki mencongkal-congkel hati gadis-gadis yang lebih muda darinya dan kebiasaan Si Perempuan mengocok-ngocok perasaan lelaki paruh baya.
Ujung rokok keduanya sudah saling memelototi, menunda waktu untuk dibakar. Sia-sia; lelaki itu menyalakan geretan di tengah-tengah dan mereka saling merapatkan wajah sehingga ujung-ujung rokok di bibir mereka bertemu di tengah-tengah, tepat di atas jilatan api. Ah, seperti ciuman penuh gelora. Sehelai tembakau memberontak, melompat dari kepompong rokok, menabrak pegangan cangkir, jatuh ke genangan air akibat embun di dinding gelas yang terkena panas. Ketika mendapati dirinya ngambang di atas air, Si Sehelai Tembakau bermimpi tentang kampung halamannya yang bahkan namanya pun tak diketahuinya.

Selanjutnya silahkan baca di IndoPROGRESS-Kedai Kopi Oriental

Selasa, 11 Oktober 2011

Remaham Cerita yang Terpungut di Pinggir Jalan

Ia melihat bintang itu. Berpijar sendirian di ufuk timur, sedikit terbakar seperti kembang api yang sudah terkena angin, lantas mehilang lagi dalam gelap dini hari. Ia dengan keterkejutan yang sigap berjalan, tepatnya berlari, berlari kembali ke rumah.
            Ia teringat puluhan tahun lalu ketika ia dan kakeknya melihat bintang yang sama. Kali itu, kakeknya pergi ke arah bintang itu terlihat, kakeknya berlari jauh ke arah timur. Ia tak berhasil dan tak bertenaga mengikuti kakeknya hari itu. Ia pun kembali ke rumahnya. Dan hari itu menjadi hari terakhir ia melihat kakeknya.
            Seminggu setelah kakeknya menghilang di gelap dinihari, ayahnya didatangi oleh sepuluh orang berseragam lengkap. Hari itu ayahnya pun mengikuti jejak kakeknya; menghilang di gelap dinihari dan tak pernah kembali lagi.
***
            Lautan terlihat begitu luas. Ia sendirian di atas sampan itu, merenungi pagi yang akan segera tiba. Dipandangi rembulan yang memamah sampannya dalam gigi-giginya yang putih berselumut hitam tanah. Ini laut yang penuh cerita. Ia teringat beberapa kisah yang hidup di sela-sela keseharian di kampung mereka. Ada sebuah bintang yang pernah pada suatu masa jatuh ke dalam laut mereka dan menimbulkan lubang besar di dasar laut. Itulah makanya di daerah selat mereka ada sebuah golo, pusaran bawah laut yang sangat besar dan selalu memakan korban. Bukan karena pusaran itu selalu kelaparan setiap hari, melainkan kehendak untuk mati di tempat itu memang sangat tinggi.
            Lelaki itu terus menekuni tali pancingnya yang nelusuk pelan ke dalam lautan. Terkadang tali pancing itu bergerakgerak kecil ke kiri atau pun ke kanan, diterpa ombak dari kanan dan kirinya. Lelaki itu tetap mengenang pagi hari yang akan menjelang. Ia mengenang pagi hari yang akan menjelang. Angin yang bertiup perlahan-lahan dari arah tenggara tak dihiraukan lelaki itu. Kenangan akan pagi yang segera menjelang telah begitu rupa mengungkungnya.
            Sampannya perlahan-lahan bergerak ke arah barat daya. Ia mendekati pusaran bintang. Semakin dekat dan semakin dekat, tali pancingnya menegang dan putus, sampannya tertarik masuk ke bawah. Lelaki itu tersenyum, pagi yang segera menjelang selalu dikenangnya.
***
            Pagi ini saya mendapatkan sebuah khabar yang aneh dari seorang teman saya. Dia menelpon saya secara tergesa-gesa dan mengabarkan saya bahwa alien perempuan menunjukan batang hidungnya di China. Begini katanya, “Ternyata alien perempuan bergairah pada pria petani. Petani China Meng Zhaoguo mengaku diajak bercinta oleh alien perempuan. Mereka indehoy sambil melayang di udara. Bayi mereka lahir 60 tahun kemudian. Kayaknya bayi itu lahir sebagai yatim.”
            Saya terheran-heran dengan kabar dari kawan saya satu ini. Karena, beberapa penelitian yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu memastikan dengan sangat bahwa semua alien itu berjenis kelamin netral. Tak ada lubang tertentu dan batang tertentu yang bisa kita klasifikasikan sebagai penanda jenis kelamin dari alien yang kami sebutkan tadi. Jadi, kami pada waktu itu menyimpulkan bahwa semua alien berjenis kelamin netral. Waktu itu dan sampai sekarang, memang di dunia kami belum ditemukan metode falsifikasi dan verifikasi jadi kami menganggap hal itu sebagai kebenaran semata.
            Rupanya kabar dari seorang temanku ini membuatku harus merefisi banyak kepercayaan akan kebenaran di kepala saya.
***

           
            Tak ada yang mengira bahwa pria bernama Nikolas itu pernah bertemu alien. Namun begitulah kirakira apa yang diungkapkannya dengan penuh suka cita kepada teman-teman seasramanya. Tak ada satu pun dari teman-temannya yang mempercayai orang ini. Yah, hanya saya yang diam-diam mempercayai dia dan mulai memutuskan untuk mengawasinya diam-diam.
            Benar saja. Pada pengintaian kesekian saya, saya menemukan Nikolas bertingkah laku aneh. Minum air dengan mata, memukul pantat dengan bibir, menendang tembok dengan lidah, semua itu dilakukannya dalam rentang waktu sekitar 10 menit saja. Saya mengapresiasi keanehan-keanehannya ini sebagai sebuah jawaban atas pesan tertentu yang sangat tak kita ketahui.
            Benar saja. Nikolas pada pukul 10.00 pagi berjalan ke arah pasar. Hari ini sebenarnya bukan masanya ia untuk pergi ke pasar namun ia mengajukan diri dan berniat menggantikan teman yang harusnya bertugas hari ini. Saya membuntutinya dari belakang perlahan-lahan. Benar saja. Di pasar itu, di tengah keramaian, ia bertemu dengan sesosok makhluk tanpa ujud. Tak ada orang yang mengetahui itu, tapi saya mengetahuinya. Saya bisa merasakan kehadiram sang ujud yang tanpa ujud itu.
            Seketika itu juga saya sadar, Nikolas akan melakukan sesuatu yang aneh di negeri ini dan saya hanya bisa lapang dada saja.
***
            Jika kalian pernah mengenal Doctor Who, saya kira ada baiknya kenangan kalian tentang Doctor Who disimpan dulu. Kekasih saya pada suatu hari, ketika itu kami belum menjadi sepasang kekasih, mengisahkan kepada saya tentang sebuah mesin waktu. Saya terheran-heran dan pada hari itu menjadi sangat tertarik pada perempuan itu. “Iya Bert, jadi saya menemukan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu.”
Saya tentu saja yang pada waktu itu sangat tergila-gila dengan Doctor Who dan Battlestar Galactica langsung merasa tertarik dan menjadi tertarik untuk masuk dalam perbincangan itu lebih lanjut. Ia membuka laptopnya lantas menunjukan padaku mesin waktu itu. “Voila, ini dia!” Saya lantas melahap tulisannya itu seperti seorang atau seekor (?) raksasa melahap buruannya yang terjebak tanpa daya di sebuah keruk tanah di pegunungan yang jauh. Yah, yah, yah, dan mesin waktu milik perempuan yang kini menjadi kekasih saya itu sesungguhnya bisa dimiliki oleh kita semua saudara-saudari sekalian.
Namun agar perkara mesin waktunya ini menjadi milik dia dan saya seorang, maka rahasia itu tak akan pernah saya ucapkan pada anda sekiranya anda membayar saya dengan apa pun. Saya ingat, waktu itu pukul 6 petang kalau tak salah.
***
            Jam delapan dan sembilan malam adalah waktu favorit bagi para alien untuk mengunjungi bumi. Jika kalian tak percaya, cobalah sesekali kesempatan pada waktu yang tersebut saya sebutkan, datangilah sebuah tanah lapang, padang sabana, atau sebuah tempat yang menurut kepala anda memungkinkan sebuah pesawat ruang angkasa milik alien bisa melakukan pendaratan. Ada beberapa pengakuan yang sempat saya catatat yang memungkinkan saya untuk menyatakan hal tersebut di atas.
Pengakuan pertama dari seorang gadis 23-an tahun yang kini berprofesi sebagai wartawan di salah satu harian nasional. Di waktu yang tadi telah kita sebutkan, dia baru saja pulang dari sebuah liputan. Kebetulan dia sedang punya tenaga berlebih. Maka alih-alih menggunakan ojek, sebuah hal lumrah untuknya, ia memilih untuk berjalan kaki saja ke arah kosnya. Jalan ke arah kosannya mengharuskan dia untuk melewati sebuah tanah lapang berukuran 2x2 m, kira-kira. Nah, di sanalah ia bertemu sebuah pesawat luar angkasa. Dia melihat dengan saksama pesawat berbentuk aneh itu; bukan pesawat berbentuk burung milik kita atau piringan terbang seperti imajinasi kita, pesawat ini berbentuk seperti lubang hidungnya. Aha, kita harus merefisinya. Bukan hidungnya tetapi lubang hidunya. Yah lubang hidung tanpa daging hidung yang membatasinya dan menjadikannya lubang hidung. Kira-kira begitu cerita perempuan itu pada saya; dan semoga anda cukup pintar seperti saya sehingga bisa memahaminya. Dari pesawat itulah keluar beberapa alien yang rupa dan besarnya seperti semut rang-rang.  

*dipublikasikan pertama kali di INTRO (majalah mahasiswa STF Driyarkara, edisi XIII / Oktober 2011)
**keterangan gambar: (Gambar 1, Yue-Minjun, "Postmodern Garden"; Gambar 2, John Heartfield, "Lebentrieben")

Rabu, 16 Maret 2011

SONATA BULAN BUNDAR

Aku melihat bulan berjalan pelanpelan bagaikan kakek tua di antara awan gemawan di luar sana. Cahayanya menerjang udara pengap dan hampir menancap di batok kepalaku. Aku menangkap ujung sulur cahaya itu dan memelintirnya hingga melilit di tiang televise dari bambu. The Beatles tibatiba terdiam. Band Of Heroes tibatiba minta diri untuk tampil ke panggung. Sejujurnya aku tak mengenal mereka.

Mendengar Band Of Heroes akan konser di kamarku, si sulur cahaya bulan tibatiba memberontak. Aku bersiapsiaga. Tusukan bulan yang sakit hati konon kabarnya bisa membawa kematian atau yang paling mujur adalah gegar otak permanen.

“Sabar Bung. Saya tak bermaksud jahat. Saya hanya mau menyaksikan Band Of Heroes bersamamu. Dipikirpikir, nama itu mengingatkan saya pada perempuan manis dalam Wir Sind Helden.

Aku tak mau berpanjang tangan membantunya membuka kemelut ikatan dirinya di tiang antene televisi. Ah, dan semua kita punya satu imajinasi karena televisi ini. Aku lantas teringat seorang kawan yang mengatakan bahwa di negeri ini, alihalih mengimport dengan benar konsepkonsep barat, yang terjadi adalah penjiplakan atau penyontekan yang tak sempurna. Tibatiba aku merasa sedikit lebih pintar dari orang Indonesia lainnya. Setidak-tidaknya kalau menyontek aku selalu sempurna dalam menyontek. Itu kenapa ketika ujian aku menyontek dari seorang teman, aku tetap saja mendapat nilai C-. Itu lantaran teman yang baik hati itu pun mendapat C-.

Sulur cahaya bulan itu menjelma Kakek Tua Tambun dengan mata menyala seperti seorang ayah yang baru saja mendengar kabar bahwa rumahnya habis terbakar api. Ah, matanya mengingatkan kembali perkara perkataan seorang kawan tadi. Contoh saja ide free sex di negeri ini diterjemahkan oleh mereka yang mengakunya belajar dan terinspirasi filsafat barat sebagai TTM. Begitulah. Alih-alih menerjang institusi yang adalah tujuan free sex di barat sana, di Indonesia menjadi semacam takuttakut, sembunyisembunyi, berpetak umpet secara serius dengan institusi. Yah, mau bagaimana lagi. Kawan itu meski sudah termakan usia masih menyimpan energi belasan tahun yang besar.

Sulur cahaya bulan yang sudah menjelma kakek tua nyelonong masuk ke kamarku tanpa minta permisi. Aku terbengongbengong di balkon. Bagaimana pun juga rokokku belum habis dan untuk masuk ke kamar engkau harus mematikan rokok. Ini bukan perkara takut pada institusi rumah melainkan perkara mengakali sirkulasi udara kamar yang tak bagus.
Dia langsung duduk di kursiku, menyalakan computer—anehnya dia pun tahu password untuk mengaksesnya pula, padahal jika orang selain aku melakukannya, dia harus memilih satu dari 500 kemungkinan yang ada. Nyala computer ini aku tahu dari berkumandang secara tibatibanya raindrop keep falling… dengan suara renyah Andy Williams.

Setelah rokok selesai, aku menyusul masuk. Lelaki itu tersenyum menyambut tatapan keheranan campur kekaguman campur kemarahanku.

“Tenang Nak. Aku adalah masa depanmu.”

“Hah? Bukannya cahaya selalu berasal dari masa lalu?”

“Ah, kau seperti tak tahu saja. Saya membonceng pada Malaikat Sejarah yang bersekutu dengan Roh Absolut lantas berkelahi dengan Kronos. Dalam perkelahian itu, mereka sepakat memuntahkanku.”

Tibatiba aku berdoa agar waktu berputar ulang dan sulur cahaya bulan yang hampir menikam puncak kepalaku itu tak kutangkap sehingga bermuncratanlah segala isi kepala yang tak penting ini.      

Jumat, 04 Februari 2011

PENDING…


Ia seorang pencerita ulung, kukira. Betapa tidak. Sepuluh orang yang duduk melingkar mengelilinginya tak satu pun memberi tanda-tanda akan beranjak. Setidak-tidaknya, itu pengamatanku selama sepuluh jam ini. Ia seorang backpaker miskin, backpaker tanpa tas ransel. Ujung Kulon sampai Pantai Kuta sudah dijamahnya dengan berjalan kaki. Pencuci piring di sebuah rumah makan padang sampai pengendus di salah satu usaha aroma terapi ilegal di Ubud pun pernah dilakoninya. Hanya satu cita-citanya; membunuh Borges dalam Labirin Impian-nya.

“Beginilah hidupku sekarang, sobat. Membunuh waktu, sebelum kembali bertemu dengannya,” sebuah cerita dimulainya lagi.

“Kalian tentu tahu, seperti apa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Yah, jatuh cinta yang benar-benar jatuh cinta. Cinta yang membuatmu bahkan rela lebur dalam udara yang akan dihirupnya. Cinta seperti ini kawan, bisa merubah hidupmu seratus persen. Seperti diriku saat ini.

“Namanya Niskala, Niskala Rengganish tepatnya. Perempuan yang kutemui ketika matahari enggan beralih ke belahan bumi lain dan rembulan, oh rembulan, betapa sakit hatinya ia karena matahari tak membiarkannya muncul dari balik bukit. Waktu itu, hari jumat, aku iseng mengunjungi salah satu kafe plus perpustakaan di kotaku. Di sanalah aku berpapasan dengannya. Kalian tahu, ketika Niskala tersenyum padaku, dua jiwaku terjaga bersamaan.

“Manusia ini punya dua jiwa. Jiwa yang satu terjaga ketika jiwa yang lain tertidur. Misalnya ketika engkau tidur, secara refleks engkau akan bangun pada pukul lima pagi karena setengah jam lagi engkau harus menjemput kenalanmu yang datang dari luar kota. Apa yang membuatmu bisa terbangun secara refleks? Tentu saja salah satu jiwamu yang membangunkanmu, jiwa yang terjaga ketika jiwa yang satunya tertidur. Setelah engkau bangun, maka jiwa yang tadi terjaga akan tertidur.

“Baiklah, kita kembali pada Niskala. Sejak pertemuan itu, aku jatuh cinta, begitu saja tanpa alasan yang pasti dan yang mampu dimengerti, pada Niskala. Seminggu penuh aku terus mendatangi tempat itu, berharap berpapasan lagi dengan Niskala. Sia-sia. Ia tak datang dari rabu sampai senin. Namun di hari jumat, ia muncul lagi. Ternyata, memang hanya setiap hari jumatlah, Niskala mendatangi tempat itu. Semacam sebuah rutinitas baginya. Pada pertemuan, tepatnya saling berpapasannya kami atau lebih tepatnya kesengajaanku untuk berpapasan dengannya, ke duapuluh satu, kami saling menyapa, berbincang-bincang, menghabiskan petang hari berdua. Bayangkan sobat, tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan kebahagiaanku saat itu.

“Enam hari sejak hari jumat itu adalah masa terindah dalam hidupku. Enam jam sehari kami habiskan berbincang-bincang lewat handphone. Aku masih ingat kalimat terakhirnya di malam jumat itu, ‘jangan lupa bawakan The Famished Road-nya Ben Okri besok’.

“Pukul tiga aku sudah di sudut kafe plus perpustakaan itu. Niskala akan muncul pukul empat. Si sinting Zappa iseng dengan Return of the Son of Shut Up. Aku tersenyum, penuh suka cita. Ah, Niskala cepatlah kemari. Mari kita nyanyikan bersama sambil membayangkan Modigiliani dan Jeane.

“Pukul 4.30, Niskala belum juga muncul. Aku mengirimkan pesan singkat untuknya, ‘Hai. Kmu dah d mna?’ Aku menunggu laporan pengiriman beberapa menit. Iseng, kupandangi televisi yang tengah menyiarkan berita. Kulirik pula handphone-ku. Masih pending. Kupandangi lagi televisi yang tengah menyiarkan berita. ‘Coba di-pause,’ spontan aku berteriak. Sekelebat, kusaksikan Niskala diangkat keluar dari reruntuhan oleh tim SAR.

“Aku langsung berlari, menyetop taksi, meluncur ke arah barat daya kotaku. Aku tak yakin, aku pasti tak yakin, Niskala telah menghempaskanku ke rutinitas indah, lantas mencampakanku sendirian begitu saja.

“Nama Niskala Rengganish tak kutemui. Sosok Niskala yang kulihat itu pun tak terlacak lagi. Dan sms yang kukirimkan, masih juga pending….

“Begitulah, Sobat. Kawanku itu, beberapa hari kemudian bunuh diri. Ia memintaku menemuinya di pinggir danau tempat kami sering bertemu. Ketika aku ke sana, darah sudah mengalir dari pergelangan tangannya. Begitu banyak darah. Silet menancap di sana. Aku panik. Kupandangi dia. ‘Bertahan!’ kataku. Ia hanya menggeleng. ‘Aku hanya ingin mati. Mati demi mati. Tidak untuk kehidupan, tidak untuk kekalahan atau kemenangan, tidak untuk Niskala. Mati untuk mati. Aku ingin menikmati kematian ini tanpa panik dan tanpa tak sadarkan diri seperti Niskala… Niskala’. Selepas nama Niskala untuk ketiga kali disebutnya, ia pun menutup mata.

Backpaker tanpa tas ransel itu pun beranjak. Namun ia sempat berbisik padaku, “Aisyah, bolehkah kumuntahkan kisah-kisah petualanganku di kamarmu malam nanti?”


*Tulisan Lama, sekitar pertengahan 2009.

Rabu, 27 Oktober 2010

Akhirnya, Yohanes Pembaptis pun Menikah

Ketika kecil dulu, ketika begitu terpesonanya dengan sebuah buku kecil tentang Alexander Agung, aku pernah berkata pada ayahku,

“Pa, aku ingin jadi penulis novel.”

“Hahahaha… Nak. Jangan bermimpi menjadi Tuhan. Pengarang adalah cita-cita menjadi Tuhan yang tak kesampaian. Mending jadi guru saja seperti bapakmu ini”

Itu ketika aku kecil.

Ketika sudah tidak kecil benar, di rumah Pak Haji Sarmin aku dan teman-teman suka nonton tv. Ketika itulah aku tahu ada tempat-tempat lain di luar sana yang gemerlap nan bersinar; London, New York, Paris, dan Istambul. Aku pun jadi tahu bahwa ada pembebasan di Timor Timur, ada orang-orang dengan kulit putih dan rambut keriwil di Irian Jaya. Aku lalu jadi tahu bahwa ada yang lebih mengasyikan dari cerita Alexander Agung yakni film-film Cintya Rotrock. Aku pun bilang ke Mang Karyo.

“Mang, aku pengen bikin film yang ada Fatimah-nya.” Fatimah itu adiknnya temanku. Minta ampun manis dan cantiknya si cilik itu.

“Kamu bikin dulu ceritanya.”

Maka aku pun lantas coba-coba bikin cerita yang ceritanya nanti kalau sudah dewasa akan aku jadikan film.

Aku pun jadi teringat pada cerita Ibu tentang Yohanes Pembaptis yang dipenggal kepalanya atas permintaan seorang putri cantik nan rupawan. Akan tetapi, aku tak suka kalau Yohanes Pembaptis harus mati. Sebab yang kubayangkan dalam film itu, yang jadi putri cantik nan rupawan yang menari di depan Herodes dan para tamunya adalah Fatimah dan yang jadi Yohanes Pembaptis yang dimasukkan ke penjara itu adalah aku.

Maka, ceritaku yang ceritanya hendak difilmkan ketika aku dewasa nanti demikian:

Kenapa Yohanes Pembaptis dipenjarakan? Tak lain dan tak bukan karena cinta jua. Cinta juga yang mengakibatkan Yohanes Pembaptis jadi pengembara, berkhotbah ke sana ke mari, dan hanya makan belalang.

Awalnya, Yohanes Pembaptis (yang waktu itu menggunakan nama aslinya Yoshua bin Mesekhiel) adalah seorang pemuda yang terpelajar, bersih, lagi punya pekerjaan yang baik. Suatu ketika, ketika Yohanes Pembaptis baru pulang dari membeli anggur di pasar, ia melihat rombongan keluarga raja yang lewat. Saat itulah hatinya langsung luluh lantah, otaknya hanya diisi oleh cinta akan anak gadis sang raja. Bukan namanya Yohanes Pembaptis kalau tidak banyak akalnya. Malam harinya, ia langsung mendatangi tetangganya yang bekerja di istana. Yohanes Pembaptis meminta bantuan pada tetangganya itu, yang meskipun hanya seorang tukang sapu di istana tetapi perangainya di depan Yohanes Pembaptis seakan-akan ia adalah kepala urusan rumah tangga istana, untuk dicarikan pekerjaan di dalam istana. Singkat kata, dengan bantuan tetangganya, Yohanes Pembaptis diterima juga jadi tukang sapu di istana.

Yohanes Pembaptis dengan diam-diam selalu menyelipkan perkamen bertuliskan puisi-puisi cinta, terlebih tentang kekagumannya pada sang puteri raja. Pernah ia menulis di perkamennya, ketika pada suatu siang ia bertemu sang puteri dengan kalung-kalung di lehernya; moleklah pipimu di tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung-kalung. Aku akan membuatkanmu penutup dada dari emas. Tapi ketika akan menyisipkan perkamen itu ke bawah pintu kamar sang puteri, Yohanes Pembaptis menghapus kalimat terakhirnya sehingga perkamennya menjadi demikian; moleklah pipimu di tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung-kalung. Aku akan membuatkanmu penutup dada dari emas.

Begitulah. Hampir saban hari, Puteri Tiri Herodes selalu mendapatkan perkamen-perkamen cinta dari Yohanes Pembaptis. Hal ini sungguh menyenangkan bagi puteri itu. Setidak-tidaknya, menjadi selingan dari kehidupan istana yang monoton dan itu-itu saja. Umurnya yang sudah memasuki masa pubertas ditambah cerita-cerita inang pengasuhnya—seorang perawan tua yang harus menutupi keinginan menikahnya lantaran tugas di istana—tentang pangeran-pangeran tampan dari negeri-negeri jauh, negeri-negeri yang dipenuhi harum cendana, negeri-negeri di mana gajah dan manusia hidup berdampingan bak sahabat, negeri-negeri di mana manusianya berkulit merah semuanya, negeri-negeri di mana manusia-manusianya punya satu sayap di punggungnya. Maka, lama kelamaan, Puteri Tiri Herodes ini selalu menanti perkamen-perkamen cinta dari Yohanes Pembaptis.

Hingga pada suatu malam, Puteri Tiri Herodes tak menemukan perkamen cinta seperti biasanya. Sang Puteri tak bisa memejamkan mata malam itu, karena merindukan perkamen cinta itu.

Yohanes Pembaptis bukannya tidak menyelipkan perkamen cinta di pintu kamar Sang Putri malam itu. Ritual asmara nan suci itu sudah dilakukannya. Namun apes, ia tak melihat ada sepasang mata tak sengaja menangkap gerak-geriknya. Orang itu lalu membawa perkamen itu ke hadapan Herodes. Herodes murka akan apa yang ditulis di sana, terlebih lagi setelah tahu bahwa itu adalah tulisan Yohanes Pembaptis sang abdinya. Demikian tulisan di perkamen itu; Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Berbirahi aku melihatmu. Rambutmu, oh rambutmu, bagai kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead. Oh, Putriku, oh junjungan hati dan jiwaku, maukah kau lari dan menikah denganku di padang gurun yang jauh? Herodes murka. Diperintahkannya Yohanes Pembaptis menghadap. Namun Yohanes Pembaptis sudah lari meninggalkan istana.

Sejak meninggalkan istana itulah Yohanes Pembaptis yang bernama asli Yoshua bin Mesekhiel resmi mengganti namanya menjadi Yohanes. Atas nama penyamaran, Yoshua bin Mesekhiel mengganti bajunya dengan pakaian compang-camping, membiarkan jenggot dan rambutnya tak terpelihara. Dan atas nama ketakutan atas daya pencaharian para prajurit Herodeslah, Yoshua bin Mesekhiel yang sekarang bernama Yohanes Pembaptis memilih tinggal di padang gurun sebagai seorang pertapa.

Sampai di sini, aku tak lagi melanjutkan cerita itu, karena Ibu sudah memanggil-manggil untuk pulang ke rumah. Andaikan masih punya waktu, aku akan melanjutkan cerita ini dengan akhir yang menyenangkan yakni Putri Tiri Herodes meminta pada Herodes untuk dinikahkan dengan Yohanes Pembaptis. Tentu saja Herodes tak bisa menolaknya karena ia sudah berjanji untuk mengabulkan apa saja permintaan putri itu, lantaran hatinya dan hati tetamunya sudah dihibur oleh tarian Sang Puteri, seperti cerita yang dibacakan ibu pada Eko semalam.

Jadi, di dalam ceritaku yang ceritanya akan dijadikan film ketika aku dewasa nanti, aku sebagai Yoshua bin Mesekhiel atau Yohanes Pembaptis akan menikah dengan Fatimah sebagai Putri Tiri Herodes.