Sabtu, 10 Oktober 2009

Pernikahan Lagu Pop dengan Produk Audio-Visual

Oleh:
Berto Tukan
(Penggiat PendarPena danForum Mahasiswa Rawasari)

We are at the end of production.
(Jean Baudrillard; Revenge of the Crystal, hal. 99)

Kini, lagu tak hanya bisa kita dengar lewat produksi aslinya (misal kaset dan CD) tetapi bisa kita dengar pula lewat bentuk produksi lainnya, misalnya Ring Back Tone, penanda jam, sound track sebuah sinetron termutakhir, atau pun sound latar untuk iklan produk mie instan di televisi mau pun radio. Bisa jadi suatu ketika akan ditemukan pula pada iklan sebuah parpol.

Kemajuan teknologi produksi mekanis itu memungkinkan sebuah lagu bisa didengarkan dengan gampang pada setiap media tersebut. Donald Sassoon dalam bukunya tentang budaya Eropa menggambarkan bagaimana musik saat ini berbeda sekali dengan musik di abad 18. Kala itu musik hanya didengarkan di Gereja dan beberapa kegiatan tertentu, saat ini musik bisa didengarkan di mana-mana dengan cara yang sangat ‘privat’ sekali pun.

Produk musik pop bukan lagi hanya mendikte lantas mengikuti selera pasar, lebih dari itu, musik yang didiktekan lantas mengikuti selera pasar tersebut direproduksi kembali ke dalam berbagai bentuk produksi lainnya, tentu saja dengan ‘membelokan’ ‘maksud awal’ musik tersebut. Pada titik ini kita bukan lagi membincangkan termin Roland Barthes (1977) ‘musik untuk didengarkan dan musik yang dimainkan’, melainkan ‘musik yang diperdengarkan dengan tujuan tertentu’ yakni tujuan dari media yang menungganginya.

Fetisisme Penikmat Musik
Theodor W. Adorno jauh-jauh hari telah mengumpat tentang musik pop, yang mana “dieksploitasi hingga kelelahan komersial, yang memuncak pada ‘kristalisasi standar’ (Adorno dlm Storey, 1996)”, lantas menghadirkan fetisisme pada pendengarnya. Maka, ketika musik yang asing (untuk menghindari kata: yang berbobot) muncul, kadang terdengar jelek di telinga kita, membosankan, dan sungguh membuang-buang waktu bila mendengarkannya. Nah, ‘yang fetis’ inilah yang kini didaur ulang, dijiplak, dipindah-wadahkan ke dalam berbagai bentuk produksi lain.

Baiklah kita buat sebuah analogi untuk masalah ini. Sebut saja sebuah lagu pop mutakhir Indonesia (selanjutnya disebut Lagu A) yang dengan—memparafrasekan Efek Rumah Kaca—nada minornya dan mendendangkan perselingkuhan serta raungan patah hati, lantas menjadi begitu mengena di kepala para pemilik telinga melayu. Lagu A ini lantas menjadi ‘musik yang didengar’ di mana saja, entah itu di bus, MP3 Player, dan menjadi ‘musik yang dimainkan’ di setiap acara musik dengan sponsor perusahan-perusahan besar nasional mau pun transnasional atau pun oleh pengamen di tengah KRL.
Beberapa lama kemudian, kita pun akan mendengarkan Lagu A ini pada sound track sebuah sinetron baru di salah satu stasiun televisi nasional. Beberapa lama kemudian, masih di televisi dan terkadang juga radio, beberapa part dari lagu A ini akan kita dengar sebagai sound latar sebuah iklan produk, sebut saja, mie instan. Sebelum itu, tentu saja lagu A ini akan kita dengar, mungkin hanya bagian reffrain-nya yang mendayu-dayu akan muncul sebagai RBT sebuah provider kita. Mari kita melupakan kemungkinan bahwa hal-hal tersebut menyelamatkan sang pemusik dari kerugian akibat pembajakan, yang sering mereka keluhkan itu, melainkan melihat bagaimana musik pop yang fetis (menciptakan kesadaran palsu) ini direproduksi kembali ke dalam bentuk-bentuk produksi lain yang menciptakan fetis-fetis yang baru pula; sebuah bentuk kesadaran palsu yang tercipta dari kesadaran palsu pula.

Musik Pop Disunting Sana-sini
Kejadian seperti itu sering terjadi dalam media massa, khususnya televisi. Baiklah, kita andaikan saja tema yang diangkat dalam lagu A benar-benar adalah buah dari refleksi sang musikus atas hidupnya dan dengan menuangkannya dalam lagu, ia telah membagikan pengalaman itu dengan penikmat musiknya. Musik pop sebagai produk kapitalis tentu mendikte selera pasar dan memilah repertoir musik yang bisa dikonsumsi pasar. Namun, ia tak bisa mengontrol bagaimana sebuah lagu itu dipahami, diinterpretasikan. Maka di sini, lagu A kita andaikan saja bisa memberikan makna menarik dan sedikit emansipatoris bagi kehidupan beberapa pendengarnya.

Namun, bagaimana ketika lagu A tersebut digunakan sebagai sound track, terkadang pula menemani adegan-adegan tertentu, sebuah sinetron? Kini yang hadir tentu saja adalah makna, pemahaman, dan interpretasi dari para pekerja sinetron atas lagu tersebut. Dan bukan sebuah kesalahan bila di sini kita menggaris-bawahi bahwa para pekerja sinetron itu, tentu saja tidak semuanya, kerap tidak bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan mereka. Makna seperti apakah yang akan dimunculkan dari lagu A yang cengeng ini ketika dijukposisiskan dengan sebuah cerita sinetron yang sonder ampun pula cengengnya? Mungkin anda sendiri wajib mengecek hal ini, karena saya cukup yakin hasilnya tidak akan menyenangkan saya. Satu hal yang bisa saya janjikan pada anda bahwa sinetron tersebut minimal akan meraup pemirsa, karena membonceng lagu A yang terlanjur punya banyak penikmat.

Berikutnya, bayangkanlah lagu A yang sudah dinikahi sinetron ini dipersunting pula oleh salah satu Production House pengkreasi iklan sebuah produk mie instan. Di sini, lagu A kita bisa saja diperkosa habis-habisan. Sering terjadi, ketika lagu (yang adalah nada dan lirik itu) masuk dalam produk iklan semacam ini, beberapa kalimat liriknya akan dirubah sesuai dengan maksud dan tujuan yang hendak dicapai iklan tersebut; tak lain dan tak bukan menggaet konsumen sebanyak-banyaknya. Anehnya, para—sebut saja—seniman musik pop kita dengan begitu entengnya membiarkan lagu ciptaannya diperkosa sedemikian rupa, bahkan terkadang tanpa malunya ikut nongol pula wajahnya pada iklan untuk televisi atau suaranya pada iklan untuk radio.
Penulis menduga, ketiadaan penghargaan terhadap karya sendiri semacam ini dikarenakan pertama, memang proses penciptaan lagunya yang sungguh sangat gampang dan sungguh terlampau sederhana. Kedua, te-reifikasi-nya para seniman musik pop kita; mereka menjadi semata alat produksi kapitalis tanpa pernah berpikir tentang kemanusiaannya dan pengolahan hidupnya yang terejawantah dalam musik karya mereka. Parahnya lagi, sebagian besar pendengar mereka (untuk tidak menyebut “fans berat”) mengamini saja pemerkosaan atas lagu kesayangan mereka, tanpa pernah menyayangkannya. Sekali lagi, hal ini penulis duga sebagai bukti ketidakberartian lagu A tersebut, dengan demikin ketidak-berartiannya musik pop tersebut. Atau memang saking terreifikasinya sang seniman musik pop dan para pendengar serta pemujanya.
Sound track sebuah sinetron dan sound latar sebuah iklan televisi dan radio adalah contoh, setidak-tidaknya untuk penulis, bahwa lagu Pop dari pemusik yang tak sadar benar akan dirinya dan menjadi konsumsi para pendengar yang ‘bertipe penurut yang “ritmis” dan tipe “emosional” (Adorno dlm Storey, 1996) tanpa pernah punya keinginan melawan pendiktean pasar akan menjadi sungguh tak berarti, semacam sampah. Namun demikian penulis percaya bahwa masih ada dan akan ada dari musik industri, lagu-lagu yang bisa menjadi katarsis untuk para pendengarnya, tentu bila para pendengarnya sendiri punya sistem pembacaan yang bisa melampaui pendiktean dan pilihan dari pasar.
(KRESS Vol. 1 No.1, Maret 2009—Musik & Industri; hal. 12-14)

Jumat, 11 September 2009

di pinggir jalan

memandang jalanan
ramai lalu lintas
jakarta yang sibuk
di jalanan jejak
menghilang

ah, ada yang tertinggal
di sana
digilas
roda-roda

ah, ada yang tertinggal
di sana
tersapu angin
empat penjuru

ah,ada yang tertinggal
di sana
sesuatu
entah

ingin kupungut itu,
dan mempersembahkannya
di telapak kakimu

Jl. Pramuka
2009-09-11
14:57:12

Sabtu, 18 Juli 2009

MENGINTIP SANG SAUDARA



Papua Nugini, sebuah negara tetangga yang kerap alpa dalam perbincangan kita di Negara ini. Ia dekat, tapi seakan jauh, ia di sana, tapi seakan tak ada. Papua Nugini sang saudara kandung yang terlupakan mungkin. Kisah-kisah tentang Papua Nugini, bagi saya sama tak adanya dengan kisah-kisah tentang Ethiopia atau banyak negara kecil di Afrika dan Pasifik sana, mungkin. Memang, kedua nama negara itu ada dalam repertoar kata saya, tapi tak lebih dari nama sebuah tempat saja.

Buku PERCIKAN API FAJAR: TIGA NOVELET PAPUA NUGINI adalah sebuah buku yang menghancurkan barang sedikit dari ketaktahuan itu. Melalui juru cerita Benyamin Umba, August Kituai, dan Jim Baital barang sedikit dari sang saudara yang terselubung itu sedikit-sedikit tersingkap. Tiga kisah yakni PERCIKAN API FAJAR, LARINYA SEORANG PENDUDUK DESA, dan TALI tak pelak merupakan tiga kisah yang cukup menggelitik rasa persaudaraan itu. Bahwa dari ketiga cerita yang ’sederhana’ ini, terlihat barang sedikit kesamaan kita dan Papua Nuginea. Masalah apharteid, kemiskinan, tergerusnya masyarakat tradisional, pandangan orientalis, poskolonialisme sedikit banyak terhampar secara merata di dalam ketiga cerita ini.

Salah satu penulis mengungkapkan Papua Nugini sebagai perempuan muda yang cantik rupawan yang sepertinya sangat siap sedia akan kehadiran lelaki di atas tubuhnya. Sebuah gambaran atas tanah poskolonial yang siap dijajah dan dipreteli oleh bangsa-bangsa penjajah. Ini serupa dengan gambaran seorang penulis (saya lupa namanya) menggambarkan Amerika Latin yang dikutip Annia Lomba dalam bukunya ’Postkolonialism and Kolonialism’.

Buku PERCIKAN API FAJAR: TIGA NOVELET PAPUA NUGINI adalah buku sastra Papua Nugini dalam bahasa indonesia pertama yang saya temukan. Sepanjang pencaharian saya yang tidak bisa dibilang gencar ini, belum lagi ditemukan buku serupa.Semoga, buku-buku sejenis ini semakin sering muncul dalam bahasa Indonesia. Bila sastra Malaysia, Singapura Brunai sering menghiasi majalah Horison, kenapa tidak pada suatu ketika kita menemukan sastra-sastra Papua Nugini dan bisa juga Timor Leste di rak-rak buku kita, di etalase-etalase toko dan menjadi bacaan kita bersama. Sehingga mereka yang dekat, tak lagi terlihat jauh. Sehingga sang saudara, tak lagi terselubung kabut ketak-kenalan.

Jumat, 17 Juli 2009

Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu



Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka bold (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas. Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula. Maka, setiap pembacaan dengan kaca mata pembacaannya masing-masing sangat mungkin mengungkapkan ketidak sadaran-ketidak sadaran yang berbeda-beda. Sama dengan hasil pembacaan saya atas STK dan CIL yang berkelindan-bersetubuh dengan hasil pembacaan saya atas hasil pembacaan-pembacaan terhadap STK dan CIL lainnya yang terkristalkan dalam tulisan ini; mencoba mengungkapkan sesuatu yang (mungkin) tak terungkap.
***
Menarik membandingkan STK dan CIL. Pasalnya, dalam pembacaan sepintas pun terlihat bagaimana kesamaan antara kedua karya ini; pertama sama-sama menggunakan gaya realisme magis. Realisme magis sendiri merupakan gaya penulisan yang menggunakan surealisme dan realisme secara bersamaan dan tak terpisahkan. Istilah ini diambil dari kasanah seni lukis oleh kritikus sastra untuk mencandrakan karya Marquez, Grass (dalam novel The Tin Drum) Borges, Okri serta Eka Kurniawan. Elleke Boehmer (dalam Bandel, 2003) mengatakan, bahwa gaya realisme magis merupakan gaya yang cocok bagi penceritaan tanah-tanah pascakolonial untuk menceritakan dirinya dengan kaca matanya sendiri. Kedua, STK dan CIL punya atribut-atribut cerita yang hampir-hampir mirip.

Salah satu yang paling kentara adalah kedua novel ini menyertakan pohon silsilah. STK tentang silsilah keluarga Buendia sedangkan CIL silsilah keturunan Ted Stammler. Keduanya mengambil latar tempat kota imajiner, seperti yang diungkapkan pada awal tulisan ini. Peristiwa moksa terdapat pada keduanya; Maman Gendeng di CIL dan Si Cantik Remedios dalam STK. Perlindungan terhadap keperawananpun terdapat pada keduanya; Ursula dengan “…celana dalam yang panjang buatan ibunya dari kain layar yang diperkuat dengan tali kulit yang disiliang-menyilang dan bagian depannya ditutup dengan gesper besi tebal.” (STK, hal.27). Sedangkan Alamanda dalam CIL menggunakan “…celana dalam terbuat dari logam dengan kunci gembok yang tampaknya tak memiliki lubang anak kunci untuk membukanya.” (CIL, hal. 248) Bahkan, Alamanda menggunakan semacam mantra khusus. Inces akan sering ditemukan dalam kedua novel ini. Si Cantik Remeditos muncul kembali dalam persamaan berikut; keluguan dua tokoh perempuan yang cantiknya tak terkira, bahkan akibat kecantikan itu, laki-laki yang melihatnya dipastikan akan demam tinggi dalam beberapa minggu; Rengganis Si Cantik dalam CIL dan Si Cantik Remeditos dalam STK. Bedanya, Si Cantik Remeditos akhirnya moksa. Berarti, kecantikan dan keluguannya tak tersentuh apa pun. Sedangkan Rengganis Si Cantik diperkosa oleh saudaranya sendiri, Krisan, hingga melahirkan seorang anak. Kedua novel berakhir dengan pandangan yang cenderung nihilis; STK dengan ketak-bersisaan ‘dinasti’ keluarga Buendia di Macondo dan CIL diakhiri dengan kenyataan, bahwa kutukan Ma Gedik ternyata akan terus berlanjut.

***

Menengok pendapat Elleke Boehmer di atas, tentu saja kedua novel ini lebih indah bila dibaca dengan kaca mata postkolonialisme. Kaca mata satu ini yang adalah varian postmodernisme mengandaikan adanya pengetahuan sejarah kolonial dari tanah pascakolonial tempat karya itu lahir. Maka itu, dengan penuh kerendahan hati, tulisan ini hanya akan lebih fokus pada CIL dengan sedikit-sedikit menengok STK.

Adalah menarik ketika melihat tokoh sentral CIL adalah Dewi Ayu. Walau pun banyak yang mengatakan bahwa cerita ini bercerita tentang keturunan Ted Stammler, kata Stammlet sendiri sangat jarang muncul. Saya lebih condong menyebut cerita ini sebagai kisah Dewi Ayu dan keturunannya. Dewi Ayu sendiri adalah indo tiga perempat Belanda, seperempat Indonesia. Indo merupakan warisan kolonial yang paling nyata. Biasanya, seorang Indo akan lebih condong pada darah Belandanya. Ini akan ditujukan pula dengan penggunaan nama Belanda bagi Indo. Sekolah-sekolah modern barat a la Belanda sangat berperan dalam konstruksi pembeda-bedaan ini. Sekolah-sekolah Belanda bahkan akan menamakan semua muridnya dengan nama Belanda. Minke dalam tetralogi Buruh Pramoedya serta Rusli (periksa lagi) dalam Salah Asuhan Marah Rusli pun demikian. Adalah sesuatu yang aneh ketika Henri Stamler dan Aneu Stamler menamai anak mereka dengan Dewi Ayu. Namun baiklah kita menerima Dewi Ayu sebagai Indo yang lebih memilih Indonesia ketimbang Belanda. Hal ini semakin dibuktikan dengan kekeras-kepalaan Dewi Ayu untuk tetap tinggal di Halimunda ketika semua keluarganya meninggalkan Indonesia.

Dari pandangan yang berbeda, sosok Dewi Ayu bisa dilihat sebagai simbol tanah Indonesia pasca VOC yang masih tetap eksotis, indah dan menantang untuk disetubuhi. Barat cenderung menampilkan diri sebagai laki-laki, maskulin, agresif dan timur (tanah kolonial) sering disimbolkan dengan perempuan perawan, cantik rupawan, lugu dan siap untuk ditaklukan laki-laki. Kolonialisme Indonesia dalam CIL adalah Indonesia pasca VOC (yang ditandai dengan Dewi Ayu: nama Indonesia dengan darah campuran: warisan VOC). Maka tak heranlah ketika Komandan Bloedenkamp (mewakili Jepang) menghadapi Dewi Ayu (simbol Indonesia) yang menyerahkan diri tanpa syarat, Komandan itu memperkosa dengan “…menyerangnya dengan ganas, langsung tanpa basa-basi…” (CIL, hal. 77) sedangkan Dewi Ayu hanya bisa menghindar ketika laki-laki itu hendak mencium bibirnya. Dewi Ayu dan beberapa perempuan lainnya selanjutnya menjadi “penghibur jiwa-jiwa tentara Jepang” di rumah pelacuran Mama Kalong di Halimunda. Dari rumah pelacuran Mama Kalong jaman jepang inilah Dewi Ayu melahirkan Alamanda. Belakangan, Alamanda yang hasil persetubuhan Dewi Ayu dan Jepang menikah dengan Sodancho, seorang gerilyawan massa Jepang yang hebat yang menjadi pemimpin militer di Halimunda.
(versi awal sebuah tulisan di PendarPena No.6.tahun 1. mei 2008, sastra)

Kamis, 28 Mei 2009

MISKINNYA CERITA DAN MIMPI TANAH MISKIN


Judul : Lembata (sebuah novel)
Pengarang : F. Rahardi
Tebal : x + 256 halaman
Penerbit : Penerbit Lamalera, Yogyakarta
Tahun terbit : Juli 2008
Bertamasya di dunia kisah dengan sebuah iming-iming sebelumnya memang bermadu-racun. Berbahagia bila iming-iming itu terpuaskan, sebaliknya kecewa apabila tak ditemukan. Menikmati Lembata dengan terlebih dahulu terprovokasi pengantar penerbitannya, saya tak jamin anda bertemu madu.
Tolle et Lege. Ambil dan bacalah. Begitu penerbit mengakhiri pengantar penerbitan novel ini, setelah menjanjikan sebuah novel yang ...merupakan gugatan keras atas kebekuan dan ketulian Gereja (hal. v), setara dengan Da Vinci Code serta God’s Spy. Namun yang ditemui justru lebih banyak berkutat pada hubungan dua anak manusia berbeda pilihan dan gaya hidup, Pedro dan Luciola. Memang ada permasalahan kebekuan dan ketulian Gereja dalam Lembata. Tetapi bila ditapis dan dibuang, ia tak memustahilkan terangkainya cerita.
Terlepas dari itu, mengangkat nama sebuah tempat real sebagai judul novel adalah tindakan berani. Apalagi ketika tempat itu begitu sepi publikasi sebelumnya dan jauh dari kata populer. Keunikan Lembata bukan hanya itu. Ia juga adalah novel pertama dari F. Rahardi yang di kancah sastra Indonesia lebih dikenal sebagai penyair dan essais.
Dua Kutub Berbeda
Lembata ampunya tokoh utama pastor muda Keuskupan Larantuka, Pedro, dan Luciola, putri konglomerat-pembisnis lintas benua. Bersettingkan Jakarta, Larantuka, Lembata, Darwin, Montreux, Monaco, dll, Lembata berkelindan bersama sosok Luciola yang kaya sonder-ampun, berpadu Pedro dan masyarakat Lembata yang sonder-ampun pula miskinnya. Bayangkan! Uang yang dihambur-hamburkan Luciola dalam sehari, hampir sama dengan jumlah pendapatan empat kepala keluarga di Aliuroba sebulannya. Hidup bebas a la manusia modern dikonfrontasikan dengan kepatuhan hidup selibat seorang pastor Katolik. Luciola atau Ola adalah anak metropolis yang akrab dengan kebebasan, free sex, dan alkohol. Dengan uang yang ia punya, apa pun mampu didapatnya. Di sisi lain, Pedro yang berlatar belakang kota tua Katolik, Larantuka, begitu setia pada kaul hidup selibat dan kaul kemiskinannya. Keduanya bertemu di kampus Atma Jaya.
Lembata pun berhulu ketika Luciola jatuh cinta pada Pedro. Segala hal dicobanya untuk bisa menikahi Pedro, atau setidak-tidaknya berhubungan seks semalam saja. Dari menyertai Pedro ke tempat tugas barunya di Paroki Aliuroba yang miskin hingga mengirimkan foto-foto hubungan seksnya dengan para gigolo Monaco dilakukan Ola. Namun, bahkan setelah Pedro menanggalkan jubah pastornya pun, Pedro tetap teguh pada pilihan hidup selibat.
“… Papi, aku mau bekerja untuk kemanusiaan. Melalui Gereja, aku mau bekerja untuk kemanusiaan. …… Kamu masih mau tetap membantu aku bukan? Pedro, cinta, terlebih seks, ternyata memang bukan hal yang utama ya?” (hal. 256). Itulah akhir cerita ini, ketika Luciola yang modern ’menyerah’ pada pendirian dan pilihan Pedro.
Sebuah Solusi Utopis?
Selain berhasil menyusupkan problematika pemerintahan dan gereja lokal Lembata kontemporer, F. Rahardi yang pernah berkhitmat di majalah Trubus ini pun renyah menampilkan potensi pertanian tanah Lembata. Dengan rinci diuraikannya unsur-unsur tanah, iklim, dan potensi serta komoditi-komoditi yang cocok untuk tanah di daerah yang terlanjur dicap tandus itu. Pemahaman Rahardi akan dunia pertanian lokal mau pun global mengkristal dalam novel ini. Bukan hanya potensi tanah dan komoditasnya yang dibahas, Lembata seakan ’menciptakan strategi’ melawan hegemoni pasar pertanian global.
Sayang. Strategi yang tercipta dalam Lembata terkesan utopis, mengejar akhir cerita yang manis, berbau deus ex machina. Luciola yang sonder-ampun kayanya itu menjadi dewi penyelamat bagi petani Aliuroba. Dengan kekuasaan dan uangnya, Ola memungkinkan petani Aliuroba mandiri dan punya posisi tawar dalam berhadapan dengan pemerintah, pun pula mafia perdagangan pangan global. Bukankah ini sebuah dongeng sebelum tidur yang terlampau manis, ketika hampir semua petani di negeri penghasil padi terbesar ketiga dunia ini begitu merana hidupnya?
Selain itu, Lembata kurang berhasil pula menjadi novel yang mengalir indah dengan dialog-dialog dan jalan cerita yang mampu membuat terpana. Lembata lebih banyak diisi monolog-monolog tanpa interaksi intens para tokoh. Masalah pertanian, kemiskinan, dan perbedaan kontrasnya dengan kekayaan Ola, dengan tak apik menjadi unsur-unsur cerita yang tidak saling menyatu. Sehingga, pada tikungan kesekian novel ini, niscaya rambu-rambu kebosanan menanti. Hadirnya Luciola sebagai penggoda Pastor Pedro—yang terkesan terlampau suci, tak semanusiawi, misalnya, tokoh Saman-nya Ayu Utami—pun cukup mengganggu bila dibaca dengan kaca mata pembacaan yang lain. F. Rahardi seakan ’melestarikan’ konstruksi sosial patriarkis, di mana perempuan selalu menjadi sumber masalah manusia. Lembata-pun menambah panjang daftar kisah yang bias jender, di mana tokoh penggoda nan jahat kerap berkelamin perempuan.
***
Terlepas dari semua itu, Lembata termasuk novel yang patut dinikmati dengan kekritisan dan juga empati pada korban ketakadilan dunia; para petani kecil di seluruh pelosok negeri ini. Lembata mungkin punya sumbangsih kecil yang patut dilirik, ketika ia membisikan sebuah mimpi para petani dari tanah miskin di pelosok-pelosok Pulau ’lomblem’ Lembata.
Bila bahan-bahan baku Lembata menjadi adonan cerita yang tak semiskin ini, lebih menarik, saling padu dan nir-pisah, niscaya novel ini menjadi mata air penyegar di tengah kemelut krisis pangan global. Ia bisa pula menjadi peringatan keras, di tengah mengaburnya identitas Indonesia sebagai negara agraris dewasa ini.

Kamis, 26 Maret 2009

Sastra, Sains: Percikan Kecil Api Kehidupan

Karya sastra menawarkan sebuah tamasya batin yang tak terkira. Michael Pearson dalam Tempat-tempat Imajiner menulis; membaca sastra merupakan cara melupakan sejenak kehidupan nyata untuk bertamasya ke tempat lain, merefleksikan dunia nyata, dan lantas kembali lagi ke kehidupan nyata. Dengan nada yang sama, Agus Wibowo berujar, sastra bisa menjadi oase di tengah gurun pasir kehidupan yang tandus (Seputar Indonesia, 16-12-2007).
Seorang pembaca ketika menemukan novel bagus bisa saja lupa bekerja, makan, dan tidur, hanya demi sesegera mungkin menamatkan cerita. Karena di lembaran-lembaran kertas itulah imajinasinya diajak berselancar, mimpi-mimpinya mendapat tempat, kehidupannya jadi berwarna. Ketika membaca, pembaca cenderung menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh, menyamakan dirinya dengan salah satu karakter. Lebih jauh lagi, Agus Wibowo dalam tulisannya di Seputar Indonesia, 16-12-2007, Titik-Temu Sastra dan Sains mengungkapkan, sastra berandil dalam menyuntikkan imajinasi yang memungkinkan manusia mendapat ide atau teori. Di titik ini, kita diingatkan pada penemuan-penemuan di bidang sains oleh para ilmuwan yang (kadang) merangkap sastrawan atau setidak-tidaknya gandrung pada sastra.
Membaca artikel Agus Wibowo di atas, banyak hal dapat kita amini bersama. Namun, tidak sedikit pula yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dan gugatan-gugatan yang saya rasa sudah lama didengungkan namun belum juga terjawab.

Sastra dan “Masyarakat Materi”
Sastra hendaknya dipandang sebagai salah satu bentuk kreasi manusia, di antara semesta kreasi lainnya. Pada titik ini, sastra dan sains punya kedudukan sama, sebagai hasil kerja akal budi manusia. Sastra sedikit lebih beruntung, karena bersama filsafat dibaptis sebagai mother of sciences. Dalam perjalanannya di negeri ini, sastra (dan juga filsafat) menjadi anak tiri, menjadi yang bukan pilihan. Bahkan, seperti yang diutarakan Wibowo, bukan saja para orang tua yang berkeluh kesah atas pilihan hidup sebagai sastrawan atau ilmuwan sastra, tak jarang siswa-siswi SMA kita menempatkan ilmu sastra di pilihan kedua dalam SPMB, misalnya. Lebih menyedihkan lagi, jarang kita temukan Perguruan Tinggi (PT) swasta yang punya jurusan sastra dan filsafat. Bahkan, sejak SMA-pun sastra sudah dipandang sebagai subordinat pendidikan, berada di bawah disiplin ilmu lainnya. Lihatlah betapa mindernya siswa-siswi SMA jurusan bahasa kita dan betapa berbangganya mereka yang duduk di jurusan IPA.
Di dunia baca-membacapun keanak-tirian sastra terlihat. Masyarakat memandang kegiatan membaca hanya sebagai pengisi waktu luang. Pada sebuah artikel tentang Pameran Buku IKAPI (saya lupa judul dan pengarangnya) digambarkan bagaimana seorang laki-laki paruh baya begitu malu kedapatan membeli novel. Ketika ditanya, ia menjelaskan bahwa buku itu untuk anak dan istrinya. Ia (lelaki itu) terlalu sibuk bekerja sehingga tak punya waktu membaca novel. Sudah lama memang minimnya ketertarikan masyarakat kita pada dunia membaca (fiksi) dikeluhkan. Ada yang berpendapat, hal ini diakibatkan lebih daulunya kita melangkah ke galaksi McLuhan, tanpa terlebih dahulu berkelana di galaksi Gutenberg.
Kealpaan membaca ini didukung juga oleh sistem, keadaan kehidupan mutakhir kita. Ketika uang menjadi segala-galanya di masa ini, membaca sastra yang memberi kebahagiaan jiwa dianggap tak berguna. Kebanyakan orang memilih bekerja demi uang, bukan untuk mengejawantahkan kemampuan dan bakat alamnya. Ketika uang menjadi alasan orang bekerja, membaca yang kadang menghabiskan waktu dan uang dianggap tak berguna. Maka, pendidikan pada disiplin-disiplin ilmu praktis yang dianggap lebih cepat mendatangkan uang menjadi pilihan utama. Di saat yang bersamaan, televisi telah menjadi keseharian masyarakat kita. Masyarakat yang sibuk bekerja dan capek mengejar uang, akan lebih memilih menonton televisi ketimbang membaca buku sastra. Untunglah, akhir-akhir ini kegiatan membaca mulai menjadi gaya hidup di kalangan masyarakat menengah kita, sehingga terselamatkanlah dunia sastra dari kesunyiannya yang akut.
Taufik Ismail pada sebuah kesempatan pernah mengungkapkan pentingnya membaca untuk seorang penulis. Tak mungkinlah dari negeri ini muncul banyak penulis yang bagus, apabila semangat membaca masyarakatnya masih seperti di atas. Sudah lama pula krisis membaca-menulis ini muncul. Tulisan Wibowo di penghujung 2007 mengingatkan kita bahwa wacana itu belum selesai bahkan butuh kerja ekstra menghadapinya. Kini, menurut hemat saya, tak perlu lagi kita menuding institusi-institusi tertentu untuk krisis ini. Toh terkadang terasa tak ada gunanya. Marilah mulai menebarkan kegandrungan membaca di lingkungan kecil kita masing-masing.
Profesi sastrawan masih dicibir, masih dianggap profesi yang tak menjanjikan. Memang benar, seperti yang disiratkan Wibowo, sastra dan sastrawan dianggap tak mampu memberikan kelimpahan materi. Namun bukan berarti seorang sastrawan harus hidup dalam kemiskinan materi pula. Pandangan bahwa seorang sastrawan harus hidup dalam keterasingan, kesepian dan kemiskinan, yang terkadang muncul pula dari para peminat dan pemerhati sastra, merupakan anggapan yang lantas mendukung keanak-tirian sastra itu sendiri. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana dunia sastra dan segala yang terkait di dalamnya berusaha mengapresiasi profesi sastrawan sehingga pembicaraan tentang materi dari profesi itu tidak diulang-ulang lagi. Toh, dengan selesainya pembicaraan tentang materi seorang sastrawan, ia akan berkarya dengan lebih baik. Dengan atmosfir yang demikian sastra kita akan jauh lebih maju, dan bukan tidak mungkin akan muncul Jules Verne, H.G. Wells, Brian Aldiss, Poe, atau pun Borges-nya Indonesia. Tapi jangan mimpi bila misalkan masih lebih mahal sebungkus rokok dibandingkan royalti sastrawan untuk satu bukunya.

Kampus; Wali Pernikahan Sastra-Sains?
Dengan asumsi sastra dengan imajinasinya dapat mempengaruhi pengkonsepan hipotesis atau pengasumsian penelitian dalam sains dan sains bisa menjadi inspirasi dalam penulisan karya sastra, Wibowo menawarkan ide integrasi atau penambahan muatan mata kuliah antara kedua fakultas tersebut. Di sini, kita harus terlebih dahulu melihat kedudukan Fakultas Sastra bukan sebagai tempat menghasilkan karya sastra, melainkan sebagai (meminjam judul tulisan Jafar Fakhrurozi) pusat studi dan apresiasi sastra. Maka menurut saya, salah alamatlah bila mengharapkan muncul karya sastra bertemakan sains dari kampus. Mungkin akan benar pendapat Wibowo bila pengintegrasian kedua fakultas itu dalam rangka mengapresiasi sains fiction.
Namun, mari coba kita bayangkan bila memang terjadi pengintegrasian atau pun penambahan muatan mata kuliah antara dua fakultas itu. Maka, menurut hemat saya, hal yang serupa harus terjadi pula antara Fakultas Sastra dengan Fakultas Psikologi, Fakultas Sastra dengan Fakultas Ilmu Sosial atau pun Fakultas Sains dengan Fakultas Psikologi, Fakultas Sains dengan Fakultas Hukum. Tentu saja bila membicarakan sebuah disiplin ilmu dengan kontribusinya atas kehidupan, semua disiplin ilmu pastinya akan saling bertautan. Sastra harus bergandengan dengan hukum untuk membicarakan fiksi-dektektif misalnya, sains harus berjabatan dengan ilmu psikologi misalnya untuk membicarakan dampak kemajuan teknologi atas masyarakat.
Maka, sebagai salah dua dari begitu banyak disiplin ilmu yang ada di kehidupan ini, hendaknya kita tidak menempatkan faklutas sastra dan sains pada tempat yang istimewa, seperti yang agak tercium dalam tulisan Wibowo. Apalagi kenyataan beban kuliah di fakultas masing-masing sudah sangat memusingkan dan membebani mahasiswa, sehingga bahkan untuk membaca satu buku dari awal sampai akhir pun, bisa-bisa mahasiswa tak punya waktu. Penambahan mata kuliah bisa saja membuat mereka bahkan tidak punya waktu untuk mengintip berita pertandingan Liga Spanyol di Koran pagi.
Ada baiknya, keinginan mencari tahu hal-hal di luar disiplin ilmu yang digelutinya, muncul dari mahasiswa itu sendiri. Bukankah ada sistem pengambilan mata kuliah lintas fakultas di perguruan tinggi – perguruan tinggi kita? Mahasiswa sastra yang ingin mendalami fiksi-dektektif bisa saja melanglang buana ke fakultas hukum dan mahasiswa sains bisa main-main ke fakultas sastra kalau ingin mengapresiasi lebih jauh novel sains fiction yang tengah dibacanya.
Tentu saja, semua itu akan terjadi apabila semangat membaca sudah tertanam dulu di setiap pribadi, tanpa dipertanyakan latar belakang ilmu yang digelutinya. Sebab, kita semua pasti sepakat, bangsa yang berpendidikan adalah bangsa dengan kegandrungan pada baca yang tinggi. Ketika ada kegandrungan baca dan atmosfir kehidupan mendukungnya, pernikahan antara berbagai disiplin ilmu pastinya akan terjadi. Mari berusaha membangkitkan minat baca.*** (edisi tulisan lama)

Panorama Murung Sastra Kita

Murungnya sastra kita dalam mengarungi zaman terbaca pada tulisan Fathor Lt (Menapaki Lorong Sastra, Lampung Post, 23/03/08). Ia mempertanyakan sampai kapan bangsa ini berjalan dalam kehampaan dan kekosongan, bila sastra masih terus dianggap sepele. Kemurungan sastra kita yang dikeluhkan Fathor ituah yang hendak dibahas dalam tulisan berikut.
Taufiq Ismail dalam data hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa tingkat baca, menulis, dan apresiasi sastra pelajar SMU di Indonesia luar biasa merosotnya. Remaja sekarang lebih suka ke mall, bioskop atau tenggelam dalam realitas virtual baru— gemerlap kehidupan para artis—daripada pergi ke perpustakaan, toko buku atau tenggelam dalam realitas fiksi sastra. Terlepas dari soal minat sastra, kendala umum kita adalah kenyataan bahwa kini minat dan kemampuan membaca di kalangan remja merosot. Masalah itu diperparah lagi dengan minimnya ketersediaan buku-buku sastra itu di perpustakaan sekolah dan kealpaan guru untuk mengarahkan siswa-siswi pada sastra.
Kurangnya minat baca pada remaja bukanlah kesalahan mereka an Sich, tapi akumulasi arogansi dan kesalah-pengertian bangsa ini pada sastra. Dari kurikulum pendidikan yang menganak-tirikan sastra, budaya glamour yang tersebar tanpa filterisasi di negeri ini, hingga hegemoni kapital pada pasar buku sastra mewarnai panorama sastra kita. Boleh jadi, sastra nantinyag akan menjadi terra incognita bila hal ini tak diubah.
***
Kalaulah sastra adalah makhluk tak berguna, tidak keliru bila dikesampingkan. Biarlah ia menjadi kenangan dalam mimpi manusia modern. Namun, persoalannya tidak demikian. Justru kealpaan manusia modern pada sastra itulah yang menyebabkan mereka menjadi bukan manusia seutuhnya. Manusia modern menjadi manusia robot, tanpa jati diri, manusia bertopeng yang hidupnya terkendali orang lain. Paling tidak, ketika manusia modern tidak disentuh getaran-getaran puitik, ia mulai tak seimbang. Hidupnya hanya akan mengandalkan otak dan otot. Kalau gagal mengakal-akali orang, otot pun dipakai.
Karya sastra dapat berguna membentuk orang menjadi lebih berbudaya dan beradab, sebab pada hakekatnya sastra adalah representasi budaya dan kehidupan manusia tempat karya itu lahir. Dalam karya sastra, manusia bisa bercermin diri, melihat ketimpangan-ketimpangan dalam hidupnya.
Bahwa sastra kurang mendapat tempat di masyarakat modern, kita perlu menggalinya pada persepsi orang tentang hidup. Selama manusia lebih menggandrungi budaya material yang ditawarkan industri dan teknologi, selama itu pula manusia kurang menghargai hal-hal spiritual yang dapat diberikan sastra. Kalau orientasi manusia modern sangat kuat pada kekayaan materi, maka kalkulasi ekonomi sungguh mendapat tempat. Bertentangan dengan itu, sastra menawarkan pengalaman batin (spiritual) dan religiusitas yang merupakan semangat terfitrah sastra. Dengan sastra, sangatlah mungkin remaja yang adalah manusia-manusia baru hidup di alam modernisme tanpa melupakan kesetiaan pada hati nurani.
Tentu persoalan kita bukanlah kutub mana paling baik dan benar. Materi memang dibutuhkan manusia, tapi tentu tidak harus menjadikan manusia materialistis. Kita juga harus mengakui pentingnya hati nurani dan dunia spiritual tanpa harus terisolasi dari publik. Persoalannya adalah keseimbangan antara tuntutan materi dan kebutuhan spiritual. Kita tak mau menjadi badan tanpa jiwa atau pun sebaliknya. Soal mencapai keseimbangan inilah, sastra bukan saja diusulkan untuk ditumbuh-kembangkan, tetapi diharuskan demi menumbuh-kembangkan individu agar menjadi manusia utuh.
***
Problem kemerosotan kesadaran berkesusastraan ini sudah mengganggu banyak orang. Banyak pula yang telah berusaha mencari solusinya. Namun sepertinya, problem ini belum tamat dengan indah.
Beberapa hal yang dapat dikemukakan di sini antara lain, diharapkan instansi-instansi yang kompeten bisa memfasilitasi sastrawan untuk menghasilkan karya bermutu yang terterima dalam lingkukang remaja kita sekarang. Sastrawan mungkin harus mencoba “menyederhanakan” dunianya untuk konsumsi remaja. Sosialisai, distribusi dan keterjangkauan atas karya-karya sastra pun memegang peranan penting pula.
Hal lain, karya sastra bermutu harus memenuhi perpustakaan sekolah-sekolah, pelajaran sastra pun mendapat porsi yang lebih banyak dari sekarang. Di sini, peran guru sebagai orang terdepan berhadapan dengan remaja rupanya harus mendorong anak didik mereka untuk berminat pada sastra. Membaca buku sastra, membuat resensi, menggelar diskusi sastra dan kegiatan serupa harus mewarnai kegiatan pendidikan di sekolah. Yang paling mendasar adalah perlunya kesadaran kolektif bangsa ini akan pentingnya peran sastra dalam hidup manusia.
Dengan upaya-upaya ini, tidaklah perlu remaja diminta untuk meminati sastra. Minat sastra dengan sendirinya akan muncul tanpa perlu diperintah. Di massa depan, niscaya akan tampil generasi baru yang begitu gemar akan sastra. Generasi itu akan peduli sastra karena mereka tahu bahwa sastra merupakan komponen penting dalam hidup. Niscaya, keluhan bahwa sastra menjadi terra incognita, hanyalah bagaikan usaha menghilangkan gendang dari sebuah grup musik beraliran dangdut. (seri tulisan lama)