Tampilkan postingan dengan label isengiseng di sastra (puisi). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label isengiseng di sastra (puisi). Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2013

Puisi-puisi saya di Jurnal Nasional edisi Minggu, 1 September 2013


Puisi Adalah Puzzle

Adalah puzzle bila dikau renangi puisi
Bila dikau menanti kapal di dermaga
Adalah kertas A3; pajangan terpinang
Etalase toko.

Puisi jadi bendera kecil, mati di
                                    Ujung samudera

“belajarlah merangkai puzzle lagi
seperti pagi ceria senyum kanak kita.”

Adalah puzzle bila dikau renangi puisi
Otakatik warnawarni gambar

Hidup antik tapa otak, moga wangi rasa tersisa

untuk lengkapnya, silahkan kunjungi link ini!

Senin, 29 April 2013

PUISI SAYA DI RADARSENI






KOREK API

Apa yang mana
Dan yang mana apa

Huh


Pada 28 April 2013 lalu, portal Radar Seni memuat tujuh puisi saya di kolom puisinya. Puisi KOREK API di atas adalah salah satunya. Untuk membaca enam puisi yang lain, silahkan berkunjung ke RADARSENI :)

Rabu, 02 Januari 2013

DUA SAJAK SAYA YANG TERBARU DI MAJALAH FRASA



KETIKA PAGI, KALA MENYERAH

tiga puisi hadir di pagi gigil
“sehelai celana yang hilang semalam
ciuman cinta di detikdetik maut
juga anne yang lapar; berlari dengan kudanya”

—maka kita berandai kata
waktu yang malu mengungkap rindu—

.............................



SAJAKSAJAK SIANG BOLONG

I
Pukul Sepuluh

Seorang penyair pernah lelah menulis puisi
karena tak lagi ada keindahan
di bumi.

Dia tak cinta puisi.
Dia tak cinta bumi.
Bisikku pada kekasih
yang tengah merintih.

hidup tetap saja hidup
bumi tetap saja bumi
keindahan bukan darah kehidupan
kejelekan bukan nadi kehidupan
dan maka puisi
adalah nafas kehidupan

......................

selebihnya dari kedua cerpen ini silahkan baca lebih lanjut di sini
 

Minggu, 13 November 2011

PUISI BERTO TUKAN DI JURNAL NASIONAL 13 NOVEMBER 2011



PINTU TERBUKA

Engkau tinggal di sebuah rumah berpintu terbuka
Selalu terbuka
Engkau melirik selalu ke pintu lima menit sekali
Terus berhatihati

Engkau tak menunggu siapa pun
Engkau pun tak ditunggu siapa pun
Hanya kau, pintu yang terbuka dan
Orang yang mondarmandir
Tak pula mereka melirik ke dalam
Tak pula mereka melempar batu

Engkau duduk di sebuah rumah berpintu terbuka
Engkau duduk dan menulis puisi tentang sebuah rumah
Berpintu terbuka

Engkau hendak melangkah; mencari sesuatu di luar rumah
Mungkin sebatang rokok, sebungkus kopi instant, atau mengambil uang
di mesin ATM

Ah, kau takut barangbaranmu di rumah diambil orang
Meski pada saat yang sama kau tahu orangorang tak pernah
Beranjak dari jalan di depan rumahmu untuk sekadar melirik
Apalagi masuk

Engkau berada di rumah berpintu terbuka
Engkau menjaga dengan hatihati segala di sana
Engkau pun tahu semua bisa melihat ke dalam
Engkau pun tahu tak ada satu pun mau melihat ke dalam

2011


TERBACA SEPERTI TAK RELA

Aku butuh sebuah puisi karena malam terhampar dengan laknat.

The Gate of Delirium. Ingin kumaki malam
Karna waktu yang berlalu adalah alaram tentang hidup yang merenta.

Oedipus membunuh ayahnya dan menikahi ibunya.
Oh, laknat.
Untung hanya dalam cerita.

Jika tak ada puisi yang indah malam ini

Tak jadi masalah
Tak jadi masalah

Seorang pedagang nasi goreng.
Aku tak melihatnya. Hanya bebunyi.
Dan kita tahu dia sedang lewat di bawah.

Bahasa.
Seakan katakata hanya sedikit saja mampu ditampung kepala
Yang lainnya entah pergi ke mana.

Aku butuh sebuah puisi karena malam terhampar dengan laknat.

2011  


BANDARA

Aku melihat keriuhan orangorang
di bandara, berseliweran beruparupa orang
seorang pemuda tanggung mengganjal perut dengan dua potong donat dunkin
gadis bermawar merah menelepon penjemputnya; mungkin kekasih atau suaminya
seorang ibu enampuluh tahunan mendengar keroncong dari blackberrynya
mungkin juga la vie en rose
lantas mengenang kekasih yang berpisah di kemayoran
tak pernah bersua lagi

aku berpikir tentang keberangkatan dan kedatangan
"green tea melati minum teh hijau terbaik dari"
penjemputan dan pengantaran, segala kontradiksi menyatu di satu tempat
bandara
katakata terkadang mengambang jadi pisau
dan kita tak tahu untuk apa si pisau itu digunakan pembaca dan pembicara
aku punya cinta
dan tak kutahu sejauh apa mampu kuaktuskan potensi itu untuk kekasih
ah, bangsat, artic monkey merusak puisi

engkau bisa minum dari gelas yang sama dengan sahabatmu
gelas itu kapan saja bisa terlempar ke mukamu

kepergian dan kedatangan adalah kehilangan sementara dan pertemuan sementara
aku menghantar dan aku menunggu
aku menunggu dan aku membatu

sebaris kata adalah sebuah selat dalam keseluruhan rasa lautan dunia
sebaris kata adalah secuil keterungkapan rasa yang keseluruhannya akan menampak
dalam perjalanan sang waktu

Cengkareng, 23/01/2011 


KISAH TENTANG SEMUT

Seekor semut jalanjalan di meja makanku
Matanya memandang ke sana ke mari
Ah, aku tahu, ia pasti mencari sesuatu
Mungkin yang manis –manis seperti jeli

Si semut berputarputar ke sana kemari
Dari sudut paling kiri sampai sudut paling kanan
Ah, tentu tak ada didapatnya apa yang dicari
Meja makan itu baru saja ibu bereskan

—ibuku ibu terhebat di dunia, tak ada noda sedikit tersisa—

Bukan ibu tega melihat semut lapar
Tapi ibu memang tak tahu semut cari makan
Kucing kami diberinya makan di dapur
Kalau ibu tahu ada semut lapar, makanan dibagikan

Dan aku mencontohi ibu
Kubuka lemari berbau madu
Lantas kucomot sekeping tahu
Kutaro di meja makan untuk tamu
Si semut pun menghampiri malu-malu

Dibauinya tahu yang siap disantap
Aku menatapnya, kursi kudekap
Ah, si semut itu tak juga memakannya
Mungkin ia malu dengan mataku yang menyala

Maka aku pun pergi sembunyi
Sambil mengintip dari balik gorden
Namun si semut malah pergi berlari
Tahu yang sedap belum juga dimakan

Tiba-tiba, semut itu datang lagi
Kini ia tak sendiri
Dibawahnya serta banyak sekali kawannya
Dan mereka cepatcepat mendekati tahunya

Aku hanya menatap terheranheran
Si semut yang tak mau makan sendirian
Tahu yang kuletakan untuknya
Dia memanggil temantemannya tentu lapar mereka

Tahu itu diangkat mereka beramairamai
Sambil bersimbah air mata
Akan rejeki yang diberikan semesta hari ini
Dan mereka pasti akan berpesta


Keterangan: Gambar, lukisan karya Xiao Hong.

Minggu, 08 Mei 2011

PUISI-PUISI (YANG SAYA LUPA BAHWA PERNAH MENULISNYA) NAMUN DITEMUKAN KEMBALI DI DALAM FOLDER SEND ITEM SALAH SATU EMAIL SAYA


PUISI MALAM

jalanjalan di tengah malam
angin serak antara langit yang lenggang awan
bintang tak ada namun
dan bulan lupa nampak

gadisgadis sederhana berkain di jalanjalan
memanggilmanggil minta mampir
ahhhhh...
aku tak mau.. atau tak ada uang
ha... ha... ha......
botol vodga pecah di aspal

dan malam....
bawa aku pergi
aku ingin terus berjalan

"hello kawan long time no see"

tapi aku tak mau mampir
aku ingin terus berjalan
hingga ujung jalan ini menemukan aku
pada sesuatu yang entah apa

Malam ini, Matraman


PUISI PAGI HARI

I
Gelembung bendungkan dingin
Dan pecah merah di lidah malam
Hitam legam yang kau adakan
Sewarna kulit teman kencanku semalam

Tipis selendang melambai-lambai
Meliuk-liuk melambai memanggil matahari
Dan awan yang belum disapa asap paberik
Mengintip perlahan, malu-malu, dan kikuk

Ah…,
kau temani pagiku yang lesu lesi berperih.
Dan selanjutnya sobat?

II
Semalam selepas makan di warteg pinggir kali itu
Aku ingat, engkau masih ada di sela pikir dan dengarku
Pagi-pagi kucari kau tuk berunding tentang pegal hari ini
Ah, teringat nenek yang ngajari menumbuk biji kopi
Ah, teringat ayah yang marah menangkap kita tengah bercinta

Dua seselendangmu mengada di antara berita-berita
Di atas panggung merah dan putih
Tiang tak berbendera perak pun memudar hitam
Bengkok di tanah berair lumpur

Mari, kita penuhi dada dengan racun
Tak perlu takut mati dini
Toh, mati adalah takdir (atau anugerah?)
“Kau pikir saja sendiri,”
Teringat bibir merah gadis berambut senja

III
hoooooooooooi…… pagi yang merekah merah dan
sangkala perlahan menyibak puncak dinding langit dan
embun mengejarnya…. Tertatihtatih dan
rerumputan yang bersih selesai mandi tak kuasa sembunyi dari
 angkara murka; berlari

kita harus pergi, berucap sayonara pada tempat ini
kawankawanku
karena hidup tak bisa hanya di sini
kita harus pergi, berucap sayonara pada tempat ini
 kawankawanku
walau hidup tak tahu kita ada
kita harus pergi, berucap sayonara pada tempat ini
kawankawanku
renyah nyanyian dan silau katakata memanggilmanggilku
kita harus pergi, berucap sayonara pada tempat ini
kawankawanku
dan kalian sebegitu cepatnya pamit permisi?
yah, aku pun harus pergi kawankawanku
mendendang pegal menisik sunyi kata
biar bisa bertemu kalian lagi……. esok pagi

ooooits… tunggu! mari kita mampir sebentar
membangkitkan tomboltombol mati; bangunkan gadis
yang tersenyum dalam mimpi; mengendap diri
Zum geburstag viel glueck yaaa….

20 Januari 2006


TIKAR HITAM

III
(kala duka bulan runtuh dilirik lembing-lembing legiun edison ,
berdua kita setubuhi jalanan)

lihatlah……
pohonpohon lelap dibelai mama malam
antara sendu siul angin, dengar dengkurnya
meniupniup putih bajumu menggelombang putih selendangmu

hooooooi……
jiwamu yang separoh tersisa
temanilah aku dulu; keringkan air mata petaka
bulan yang tak lagi dikunjung

(belum nampak ujung gang kecil, warung sempit
             semenit intermezo pun lelap)

di malam dan perjalanan ini aku masih rindu manis kata
walau….. ladangladang tebu telah tenggelam jauh dari sini
karena hidup begitu miskin melodi

(setelah sedepah itu, gang sempit menjenguk di balik awan
warung kecil menyunyi di lekuk bulan runcing)

ahhhhhduh…… tiba kau padanya,
ucapan selamat tinggal pada malam
pada jalanan tumpangan kita; juga buatku
jiwamu telah penat tubuhmu terlumur tawar rasa.
ucapkan selamat tinggal sekali lagi… sekali lagi… sekali lagi…

(seselendang putih tak kau kibarkan lagi, tubuhmu yang memerah
perlahan menghitam abu)

nah begitu, selamat berlayar entah ke mana atau
tenggelam entah di mana
persahabatan kita dibatasi kefanaanku
yang sedikit lebih beruntung darimu

—kembara sesepuluh menit bersama pembara dan berpisah di kibasan tangannya jatuh di selokan terlupakan—

2003