Sabtu, 18 Januari 2014

DAN HUJAN DAN LAGI LAGI HUJAN

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Hujan itu romantis kata orang. Tetapi tak ada yang romantis dari banjir, dari air yang tergenang dan berwarna coklat tua; setua pikiran-pikiran yang hendak kita singkirkan jauh-jauh.

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Bunyi rintik di genteng tak lagi membahagiakan ketika terlalu lama terjadi. Barangkali seperti sebuah lagu yang tak pernah berhenti dimainkan.

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Di luar sana air mengalir di jalan-jalan, di lorong-lorong dari beton. Mereka membawa khabar. Yah, membisikan khabar.
Aku membayangkan jalanan sebuah kota yang akhir-akhir ini keasingannya perlahan-lahan lenyap. Sebuah mobil biru dongker barangkali tengah melaju di tengahnya. Diam-diam atau meraung-raung di tengah kemacetan.


Dan aku membayangkan kota itu.......

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Apakah masih ada yang bisa diselamatkan dari siklus air yang lantas menghilang lantaran matahari yang lantas kembali lantaran angin dan gunung? Setetes embun di daun keringkah? Segelas kopi yang kita hirup pelanpelan di pagi hari sambil melirik-lirik layar monitor telepon genggamkah?

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Dan saya tak bisa lagi menghindar dari sosok astronot yang hendak membeli rokok di warung yang berjarak hanya beberapa puluh meter saja. Tidak bisa. Sudah tidak bisa.

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Lagu dangdut dengan bunyi gedang gedut dari televisi tetangga masih saja terdengar. Entah volumenya terlampau keras, entah hujan yang tengah berdendang.

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Dan saya tak bisa lagi menghindar dari sosok astronot yang hendak membeli rokok di warung yang berjarak hanya beberapa puluh meter saja. Tidak bisa. Sudah tidak bisa.

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Saya duduk diam-diam mendengar sentuhan bintik air di genteng rumah paman. Terkadang lembut, terkadang keras, terkadang berbaris, terkadang menggigil, terkadang mengeram, terkadang ngikik, semuanya serba terkadang. Terkadang dan terkadang.

Dan hujan dan lagi-lagi hujan. Dan saya tak bisa lagi menghindar dari sosok astronot yang hendak membeli rokok di warung yang berjarak hanya beberapa puluh meter saja. Tidak bisa. Sudah tidak bisa.

Dan bulan barangkali bergelantungan di sulur-sulur cahaya matahari dan kakinya tengah menendang-nendang awan yang terlalu pekat dan padat untuk kakinya.

Dan hujan dan lagi lagi hujan
Dan hujan dan lagi lagi hujan
Dan hujan dan lagi lagi huja
Dan hujan dan lagi lagi huj
Dan hujan dan lagi lagi hu
Dan hujan dan lagi lagi-h
Dan hujan dan lagi lagi
Dan hujan dan lagi lag
Dan hujan dan lagi la
Dan hujan dan lagi-l
Dan hujan dan lagi
Dan hujan dan lag
Dan hujan dan la
Dan hujan dan-l
Dan hujan dan
Dan 
(fade out)


Tidak ada komentar: