Minggu, 28 November 2010

KISAH ASAL-USUL DAN MAKHLUK-MAKHLUK GAIB DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT LAMAHOLOT-FLORES TIMUR

Pendahuluan

Sikap kekaguman pada dunia, misteri yang disimpan dunia, dan sifat khaos dunia sudah mendorong manusia bertanya-tanya tentang apa itu dunia, bagaimana dunia ini bisa berjalan, dan dari mana asal usul dirinya itu sendiri sejak dahulu. Seperti yang sudah diketahui, segala pertanyaan itu muncul tentu saja ketika manusia mulai bisa berpikir. Pada awalnya, manusia, secara kolektif, mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dalam mitos-mitos mereka yang juga mencerminkan kepercayaan dan pandangan mereka akan dunia tempat mereka tinggal.

Di dalam mitos itulah, masyarakat tradisional mengungkapkan dan melestarikan sistem nilai mereka secara turun-temurun. Maka, mitos bagi mereka, bukan sekadar cerita biasa, melainkan sebuah cerita yang menduduki posisi penting dalam kehidupan. Namun demikian, mitos tentu saja tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang suci. Sederhana saja. Sesuatu yang dianggap suci dalam sebuah mitos tertentu, belum tentu adalah sesuatu yang suci untuk mitos yang lain.

Claude Lėvi-Strauss menyatakan bahwa mitos tak lain dan tak bukan adalah dongeng. Namun dongeng sebagai tempat di mana imajinasi manusia dapat berekspresi sebebas-bebasnya ini ini bagi Lėvi-Strauss adalah hasil dari mekanisme cara bernalar manusia.[1] Maka, dengan membaca mitos yang adalah dongeng, kita bisa melihat bagaiamana cara manusia menalar alam dan kehidupannya.

Dalam tulisan ini, akan dipaparkan mitos tentang asal-usul[2] dalam kepercayaan masyarakat Lamaholot di Kabupaten Flores Timur. Pada bagian pertama akan sedikit dijelaskan tentang masyarakat Lamaholot dan Kabupaten Flores Timur. Pada bagian kedua akan dipaparkan mitos asal-usul. Pada bagian ketiga akan coba dipaparkan hubungan antara mitos asal usul dengan dan cerita masyarakat Lamaholot tentang suku-suku asal mereka. Selanjutnya, bagian empat, kita akan melihat beberapa tokoh mitis dan makhluk-makhluk gaib dalam pandangan masyarakat Lamaholot.

I. Sekilas Masyarakat Lamaholot dan Kab. Flores Timur

Kabupaten Flores Timur terbentuk bersamaan dengan terbentuknya provinsi NTT yang adalah hasil pemekaran dari Sunda Kecil, 50 tahun yang lalu. Seperti yang digambarkan oleh namanya, kabupaten ini terletak di ujung timur Pulau Flores. Awalnya, kabupaten ini terdiri dari daratan Pulau Flores bagian timur, Pulau Adonara, Pulau Solor, dan Pulau Lembata. Belakangan, beberapa tahun yang lalu, Lembata menjadi Kabupaten sendiri. Walau pun demikian, kesatuan keempat daratan ini masih terasa.

Ibu Kota kabupaten adalah Larantuka, sebuah kota pelabuhan kecil sejak abad XV yang terletak pada 8,4 derajat lintang selatan dan 123 derajat bujur timur. Sisi selatan kota ini langsung turun ke laut, sedangkan utara langsung mendaki Gunung Mandiri. Masyarakat yang mendiami kabupaten ini adalah masyarakat Lamaholot hampir di semua desa dan kampung di kabupaten ini. Sedangkan Larantuka, kota kabupaten, sebagian besar didiami oleh masyarakat Melayu. Selain di kota Larantuka, masyarakat terakhir ini berdiam pula di Desa Wureh dan Desa Konga.

Masyarakat Lamaholot, sebagaimana juga banyak masyarakat lain di Indonesia, mempunyai pandangan dan kepercayaannya sendiri. Namun demikian, semenjak kehadiran para misionaris Portugis beberapa abad yang lalu, masyarakat Lamaholot banyak yang memeluk agama Katolik. Kepercayaan asli tidak lenyap oleh karena hal itu. Ia tetap bertahan dengan berbagai cara dalam kehidupan masyarakat Lamaholot; dalam upacara-upacara adat, perkawinan, dan juga mitos-mitos tentang Nitung serta mitos-mitos lainnya tetap dikonsumsi masyarakat Lamaholot.

II. Mitos Asal-usul Masyarakat Lamaholot

Dalam masyarakat Lamaholot, letak kisah asal-usul (usu-usa) memegang peranan penting dalam sastra tradisional mereka atau dalam bahasa daerah disebut koda knalan. Selain diceritakan secara bebas dari orang tua ke anaknya, usu-usa ini juga menjadi bagian penting dalam ritual dan seremoni adat yang penting atau koda klaken yang berarti bahasa tetua adat dalam membicarakan hal-hal penting. Pada kesempatan-kesempatan demikian, tetua adat melakukan tutu-maring usu-usa (menyampaikan cerita asal usul). Ini berkaitan dengan permohonan restu dari nenek-moyang.[3]

Patut digaris-bawahi di sini bahwa masyarakat Lamaholot itu tinggal berpencar dalam banyak kampung. Terkadang ditemukan bahwa kisah asal-usul ini, punya variasi yang banyak.

Kisah asal usul suku Ile Jadi, Koda Lia Nurat, Nurat Nuru Nama (cerita tentang Lia Nurat) :

Kisah ini adalah kisah sejarah. Cerita para penunjuk jalan. Kisah dari nenek moyang. Bermula dari Ibu Wato Sem. Berawal dari Bapak Madu Ma. Dia tinggal di Sina Jawa. Jauh di Sina. Jauh di Jawa. Baik sekali budi bahasanya. Elok sekali tutur katanya. Ibu Wato Sem Bapak Madu Ma menyuruh ibunya meminta bapaknya, ibu burung elang, bapak burung garuda merentang sayap dan terbang mengarah ke bukit, ke gunung yang berdiri sendiri, bukit yang paling besar. Di atas tanah Mandiri, gunung terakhir bukit penghabisan. Ibu burung elang dan bapak burung rajawali meletakan telurnya di bawah batu cadas dan di dalam gua. Telurnya pecah menggelegar dan lahirlah dua orang manusia; Lia Nurat dan Wato Wele.[4]

Dalam mitos yang diringkas di atas ini (mitos ini masih berlanjut tetapi lebih pada hal bagaimana keturunan dari kedua tokoh mitis di atas dan perkawinan mereka menghasilkan masyarakat yang mendiami daerah di Gunung Mandiri dan sekitarnya), kita tidak melihat konsep-konsep tentang Tuhan, makhluk-makhluk gaib dsb. Hal ini karena memang bagian mitos yang dikutip di sini bukan bagian tentang penciptaan dunia melainkan mengenai asal-usul manusia yang mendiami wilayah Gunung Mandiri.

Dalam awal kisah di atas, kita menemukan adanya dua tokoh mitis. Dalam kelanjutan cerita akan diceritakan bahwa Lia Nurat (Lia Nurat Ulu Nura Nama ; laki-laki) menikah dengan gadis keturunan Paji yang tinggal di kaki gunung. Sedangkan Wato Wele (Oa Dona Wato Wele ; perempuan) nantinya menikah dengan Pati Golo Arakian, yang berdasarkan cerita berasal dari Pulau Timor dan sebelumnya pernah mengembara sampai di Sina Jawa dan menikah dengan Putri Raja di sana. Di istana raja ini, ia menyetrika baju raja dengan menggunakan kayu cendana yang dibawahnya dari Pulau Timor. Dengan demikian, raja lantas memerintahkannya untuk mengambil kayu-kayu cendana tersebut.[5]

III. Mitos Asal-usul dan Para Suku Pendatang

Dari cerita di atas, kita melihat bagaimana masyarkat tradisional Lamaholot mencoba menjelaskan bagaimana asal-usul mereka. Yang pertama tokoh-tokoh yang muncul adalah tokoh yang tidak berasal usul dari tempat lain melainkan dilahirkan langsung di Gunung Mandiri. Namun demikian, ada keterkaitan dari para manusia mitis ini dengan daerah lain yakni Pulau Jawa. Pada bagian berikutnya, kita melihat bagaimana tokoh yang dilahirkan di gunung ini menikah dengan gadis Suku Paji[6], kelompok masyarakat yang sudah mendiami wilayah kaki Gunung Mandiri.

Selanjutnya, muncullah tokoh Pati Golo Arakian yang cukup kompleks asal-usul serta perjalanannya. Diceritakan bahwa ia pernah menikah dengan saudarinya sendiri di Pulau Timor. Selanjutnya ia mengembara ke barat, bekerja di Istana Raja dan menikah dengan Putri Raja di sana.

Masyarakat Lamaholot, juga berdasarkan cerita turun temurun—penulis belum menemukan data tertulis tentang ini—selain masyarakat asli ada juga yang merupakan pendatang dari wilayah Nusantara bagian Barat dan Timur. Suku pendatang dari barat disebut dengan istilah “Sina Jawa Malaka”. Sedangkan mereka yang berasal dari Timur disebut “Keroko Puken”. Yang dimaksudkan dengan Sina sering disambung-sambungkan dengan suku dari Cina bagian Selatan. Jawa ialah suku Hindu Jawa dan Malaka yaitu berasal dari suku Melayu termasuk Portugis Indo dan Portugis Hitam (topas) yang sebelumnya pernah tinggal di Malaka. Sedangkan yang dimaksudkan dengan Keroko Puken ialah suku-suku yang datang dari Maluku, Arafuru dan Banda.

IV. Beberapa Makhluk Gaib dalam Kepercayaan Masyarakat Lamaholot

Pusat kehidupan religius dan kemasyarakatan masyarakat Lamaholot tradisional adalah rumah adat yang disebut dengan nama korke-bale yang harus dilengkapi dengan nuba-nara. Korke-bale ini adalah tempat di mana masyarakat Lamaholot memberi sesajian untuk Lera Wulan Tana Ekan, wujud tertinggi dalam kepercayaan mereka.[7] Lera Wulan Tana Ekan adalah dewa tertinggi yang bersifat dualistis. Lera Wulan (lera = matahari; wulan = bulan) adalah dewa penguasa langit. Sedangkan Tanah Ekan (tana = tanah, wilayah kampung ; ekan = permukaan tanah, bumi) adalah dewi penguasa bumi. Hubugan antara dewa langit dan dewi bumi ini dibayangkan seperti hubungan antara suami dan istri. Rera Wulan dan Tana Ekan merupakan dewa dewi yang baik namun bisa juga menghukum manusia karena kesalahan-kesalahannya.

Setelah Rera Wulan Tana Ekan, dikenal pula Ina Sen Ama Man yakni demiurg, sang pembantu dewa pencipta. Dalam salah satu versi cerita penciptaan, dikisahkan bahwa karena bumi masih kosong, Rera Wulan Tana Ekan memberikan pada Ina Sen Ama Man kail dan tali kail sehingga ia bisa menciptakan daratan dengan menarik keluar batu karang dari air laut[8].

Setelah itu, Rea Wulan Tanah Ekan mengirimkan pula kepada Ina Sen Ama Man, Guna Dewa (tokoh gaib berikutnya) yang membentuk pepohonan dan juga manusia. Guna Dewa ini sangat berkuasa dan memegang peranan penting. Ia adalah penguasa atas segala kekuatan-kekuatan alam. Ia juga pelindung sebuah kampung dan suku-suku. Ia pula yang memberikan pengetahuan dan kemampuan tertentu kepada manusia.

Jika Rera Wulan Tanah Ekan, Ina Sen Ama Man, dan Guna Dewa dapat menciptakan sesuatu, tokoh gaib berikutnya tidak. Namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari, terasalah bahwa tokoh gaib ini lebih banyak disebutkan. Ialah Nitun roh gaib yang menetap di tempat-tempat tertentu sebagai penjaga dan penguasa atas tempat-tempat itu. Dalam kepercayaan masyarakat Lamaholot dikenal beberapa nitun yakni nitun lolon (lolon=di atas) atau disebut juga dengan nitun ile wolon (ile =gunung ; wolor=puncak).[9] Nitun-nitun ini dianggap mempunyai sifat jahat. Oleh karena itu, dalam segala kegiatan dan upacara (membuka kebun baru, membuat rumah, dsb) nitun-nitun ini senantiasa diberi sesajian dengan harapan agar dia tidak menganggu dan merusak apa yang sedang dan hendak dikerjakan.

Penutup

Demikianlah sedikit panorama mengenai mitos asal-usul dan kepercayaan masyarakat Lamaholot Flores Timur. Membicarakan sebuah tradisi dari sebuah rumpun masyarakat adalah salah satu cara untuk masuk dan lebih mengenal mereka. Karena bagaimana pun juga apa yang sudah menjadi tradisi ini, tentu saja masih tersisa dalam diri mereka. Walau pun demikian, memang segala yang berbau tradisi di zaman ini semakin jauh terdengar suaranya; tertinggal jauh di belakang kita. Walter Benjamin, dalam refleksinya atas lukisan Angelus Novus karya Paul Klee mengatakan bahwa sejarah terletak di belakang kita dan kita terlempar ke arah depan tanpa diberi waktu untuk berhenti sejenak, kembali, dan memperbaiki sejarah itu. Artinya, kehidupan sejarah manusia selalu bergerak maju; tak ada tempat untuk bernostalgia tentang Taman Eden di zaman dahulu kala.

Jika demikian, relefankah membicarakan kepercayaan tradisional yang sedikit lagi tertinggal jauh di belakang kita? Tentu saja relefan, sejauh kita masih percaya pada ingatan, sebuah kenangan akan masa lalu. Mitos-mitos dan kepercayaan tradisi yang sedikit lagi tertinggal di belakang kita, kita bicarakan dalam rangka sebuah kenangan, bukan sekedar sebuah kenangan nostalgik tetapi kenangan akan sesuatu yang baik yang pernah dihasilkan dari mekanisme kerja nalar manusia. Dengan demikian kita bisa membangun yang lebih baik di masa depan.



[1] Heddy Shri Ahimsa-Putra, Strukturalisme Lėvi-Straus:, Mitos dan Karya Sastra, (Yogyakarta: Galang Press), 2001, hlm. 77-78.

[2] Yang dimaksud dengan asal-usul di sini sebenarnya mencakup penciptaan dan tempat asal para nenek moyang masyarakat Flores Timur. Namun dalam tulisan ini diangkat bagian mitos yang lebih menunjukan tempat asal dari para nenek moyang tersebut. Tentang penciptaan dunia tidak dibahas.

[3] Yoseph Yapi Taum, Sastra dan Bahasa Ritual dalam Tradisi Lisan Masyarakat Flores Timur dalam Basis XLIII No. 6 Juni 1994, hlm. 209.

[4] Ibid, hlm. 211.

[5] Karl-Heinz Kohl, Raran Tonu Wujo: Aspek-aspek Inti Budaya Lokal di Flores Timur, diterjemahkan oleh Paul Sabon Nama (Maumere: Penerbit Ledalero), 2009, hlm. 45-49.

[6] Dalam versi lain cerita asal-usul, Suku Paji adalah keturunan dari Paji yang adalah tokoh mitis yang lahir dari telur burung rajawali itu. Lih, ibid, hlm. 97.

[7] Dr. Hendrikus Johanes Daeng, Gereja Katolik dan Kebudayaan Lokal dalam Alex Dungkal (ed), Jejak Langkah Pendidikan dan Para Pendidik Flores, (Jakarta: Penerbit Yayasan Padi-Jagung), 1999, hlm. 46.

[8] Karl-Heinz Kohl mengatakan juga bahwa bahwa versi seperti ini banyak ditemukan dalam kisah-kisah penciptaan di daerah Indonesia Timur. Op cit, hlm. 112.

[9] Ibid, hlm. 120-121.



Tidak ada komentar: