Tampilkan postingan dengan label isengiseng di sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label isengiseng di sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

MEMBACA TIGA TIPE MANUSIA AFRIZAL MALNA

dipublikasikan di Jawa Pos, 27 April 2014.



Judul                           : Kepada Apakah (Sebuah Novel)
Penulis                
        : Afrizal Malna
Penerbit               
       : Motion Publishing, Jakarta.
Tangggal Terbit   
       : 14 Februari 2014
Jumlah Halaman 
        : viii + 302 halaman

Afrizal Malna barangkali lebih produktif menulis puisi. Namun, ketika novelnya muncul, tak pelak kita harus melihatnya dengan saksama. Setelah meluncurkan Lubang dari Separuh Langit (2005), tahun ini Aftizal menghadirkan novel kedua dengan judul yang mengernyitkan dahi; Kepada Apakah.
Menghadapi judul novel ini, saya seolah-olah ‘diminta’ untuk mencari tahu apakah apa yang dimaksudkan sekaligus diminta untuk terbuka pada segala kemungkinan yang diberikan. Apakah dalam Kepada Apakah bisa merujuk ke sesuatu namun bisa juga merujuk ke apa pun. Tetapi kecintaan saya timbul pada tokoh Ram. Pada sosok Ram kita akan menemukan tiga sosok manusia sekaligus yang menyatu. Katakalah manusia modern nan eksistensil yang berusaha ke luar dari dunianya yang khaos.

Manusia Modern
Malna membuka novelnya dengan tokoh Ram, seorang mahasiswa filsafat, yang dihantui pertanyaan dari dosennya, “apakah yang anda ketahui tentang apakah?” Berada di ruangan sang dosen itu, Ram menjelma pesakitan kesadaran yang hendak diperiksa. Ram menggambarkannya sebagai, “pertanyaan yang mengosongkan seluruh pikiran. Membiarkan bahasa seperti sebuah bangunan yang berlepasan.” Setelah kejadian itu, Ram terbangun dan mendapatkan dirinya berada di dua tempat yang berbeda; sebuah pantai (hlm. 17) dan kebun nangka (hlm. 231). Selebihnya, perjalanan Ram, yang bagaikan flaneur, terus dihinggapi pertanyaan ini.  
Pikiran adalah hal utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Era modern ditandai dengan pengakuan akan kesadaran manusia yang ditempatkan pada posisi pertama. Kredo Rene Descartes jelas menunjukan itu; cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Dengan merefleksikan pertanyaan tentang apakah, Ram berada pada titik ini. Ram pun menyangkal identitas dirinya untuk mejawabi perihal apakah. Ini pun salah satu ciri khas manusia modern. Demi hidup dalam dunia modern dengan kapitalisme sebagai sistemnya, manusia harus kehilangan dirinya. Adorno dan Horkheimer (1997) mencontohkan Odissyeus yang menyangkal dirinya ketika berhadapan dengan Poliphemus sebagai ciri khas manusia modern.

Pelancong Eksistensialis dan Uebermensch
Manusia modern Ram adalah juga seorang pelancong secara real mau pun historis imajinatif. Ram di dalam kepalanya melompat ke abad pencerahan Eropa, ke masa kolonialisme Indonesia, masa Majapahit, Orde Baru dan banyak hal lagi. Ram melanglang buana ke Bandung, Madiun, Maluku, dan beberapa tempat lainnya. Namun Ram adalah pelancong yang asik dengan isi kepalanya.
Asyik dengan isi kepala nampak pula ketika Ram berhubungan dengan tokoh lainnya. Ram berada di tengah manusia lain tetapi sebenarnya tengah duduk sendirian di dalam ceruk kepalanya. Kita menemukan aroma eksistensial dalam diri Ram. Manusia lain hadir hanya sebagai pelengkap atas diriku.
Dalam keasyikan dengan isi kepala, Ram kerap menggunakan metafora “berjalan di atas tambang tipis”. Metafora “tambang tipis” ini pun dipakai orang-orang di sekitarnya untuk menggambarkan Ram. Ketika ia selesai terlibat dalam sebuah pertunjukan teater, orang-orang memujinya demikian, “kamu seperti berjalan di atas tambang tipis yang menghubungkan dua tebing antara kejahatan dan keharuan”.
Berjalan di atas seutas tambang mengandaikan sebuah keadaan yang berbahaya. Jika jatuh, dua pilihan tak mengenakan menunggunya. Untuk itu, sang peniti tambang mestilah punya kemampuan yang mumpuni. Jadi, Ram mau dan tak mau punya kemampuan itu. Maka tak heran, antara yang nyata dan yang tak nyata, antara mimpi dan realitas, di dalam sebagian besar novel ini seakan-akan tak ada batas, melebur, bercampur aduk, dan cukup sulit untuk kita bedakan.
Adalah Friedrich Nietzsche kerap menggunakan metafora meniti seutas tambang.  Nietzsche punya konsep tentang manusia yang bermentalitas uebermensch (manusia yang melampaui). Manusia uebermensch mampu melewati tambang tampa jatuh ke dalam jurang, ke dalam dua kondisi yang bertolak belakang. Manusia uebermensch berada atau hidup dalam sebuah realitas yang khaos, namun di atas tambang ia menciptakan kosmos. Ia selalu berada dalam kemenentuan meski pun dunia yang didiaminya adalah dunia yang tak menentu.    

Manusia Ekonomi(?)
            Di sini, kita sampai pada tiga tipe manusia yang berkelindan bersama dalam diri tokoh Ram. Jelas, Ram adalah manusia modern yang digugat dan menggugat isi kepalanya sendiri. Ram juga adalah sosok eksistensialis yang lebih berkutat pada kediriannya; kesosialan hanya sebagai pelengkap. Selain itu kita pun menemukan Ram yang punya kualitas manusia yang melampaui (uebermensch); berusaha berada pada situasi yang ‘nyaman’—meski pun penuh resiko—di tengah situasi yang tak pasti. 

Namun demikian ada sebuah pertanyaan menggelantung ketika kita sampai  pada lembaran terakhir Kepada Apakah. Pertanyaan ini sebenarnya menyinggung sebuah tipe manusia yang lain yakni manusia sebagai homo economicus. Ram yang bisa punya beberapa rupiah di kantongnya tak bisa secara tersurat ditemukan dalam novel ini. Barangkali, saking menjadi pelancong, saking berkutat dengan aku yang duduk di ceruk terdalam kepalanya, Ram jadi tak terlalu memusingkan benar perkara dengan apa ia makan. *** 


**Terima kasih untuk Kawan Umi Lestari atas kiriman foto korannya.


Minggu, 15 September 2013

MENCONGKEL SELILIT INGATAN


Sudah lebih dari empat dekade berlalu semenjak terjadinya G30S. Inilah peristiwa yang menurut banyak pengamat dan sejarawan Indonesia adalah tonggak penting perjalanan bangsa ini pasca kemerdekaan. Wacana 1965 sampai saat ini terkesan terus digarap, tak putus-putusnya dibincangkan, dibaca ulang, ditulis ulang, seperti yang terjadi dengan tulisan ini. Sehingga terkesan membosankan dan menjenuhkan untuk segelintir orang.

Peristiwa yang “menekuk-lututkan” partai komunis terbesar dunia di luar Uni Soviet dan RRC waktu itu pada hematnya harus dilihat sebagai trilogi; peristiwa G30S dengan segala versinya, pembantaian 1965, dan pembuangan Pulau Buruh serta para eksil di luar negeri (Warman Adam, 2004). Sejak itulah, di bawah kaki Orde Baru, “kiri” menjadi sesuatu yang diharamkan di negeri ini sekaligus menjadi ‘pembunuh’ menakutkan baik bagi para pemeluknya mau pun bukan.

“Kiri” versi rezim penguasa, “kiri”yang membunuh para jenderal dan berusaha mengkudeta lama nian bercokol di ingatan kolektif bangsa sebagai sebuah kebenaran. Ingatan kolektif yang terseleksi sesuai keinginan penguasa dan parsial ini melupakan, menutup mata atau menutup pintu rapat-rapat untuk versiversi berbeda, entah versi para korban mau pun versi saksi mata kala itu. Rakyat negeri ini pun begitu lamanya mengidap amnesia sejarah. Goebbels, seorang Nazi Jerman, pernah berujar; ceritakan sebuah tipuan berkali-kali, niscaya akan menjadi kebenaran. Mungkin seperti itu yang terjadi di negeri ini.

Demi melawan penyakit amnesia sejarah, tidak bisa tidak, versi sejarah yang dahulunya dibungkam harus diberi tempat, terus diperbincangkan, dibaca ulang, dan ditulis ulang. Dia tidak boleh membosankan bila belum semua kita terbebas dari penyakit itu, bila belum semua kita mengakui kesalahan masa lalu. Dalam usaha itu, sastra pun turut andil, memberi arti berbeda pada amnesia sejarah ini. Sastra dalam perbincangan ini menjadi penting bukan hanya karena keterlibatan pengarang pada perubahan atau peristiwa sosial tertentu, melainkan juga karena sebuah karya berkolerasi dan saling melengkapi dengan situasi sosial di luar dirinya. Inilah yang ditanggapi cerpen-cerpen karya Linda Christanty, Agus Dermawan T, dan Imam Muhatron (untuk menyebut beberapa nama). Karya mereka yang mengangkat ihwal peristiwa 1965 dalam seliweran kegairahan prosa Indonesia sejak 1998 menjadi menarik untuk diamati.
***

Beberapa cerpen yang menyinggung peristiwa 1965 yang sempat singgah di pembacaan saya menonjolkan sisi ingatan korban orang kedua (mereka yang tidak menjadi obyek dalam penangkap mau pun pembantaian). Tamu (Kompas, 20 Juni 2004) karya Ratna Indraswari Ibrahim, Kami Bongkar Rumah Kami (Suara Merdeka, 15 Juli 2007) karya Imam Muhtarom dan Candik Ala (Kompas, 30 September 2007) karya GM Sudarta misalnya mengungkit perihal korban tak langsung prahara itu.

Ayah dari Dara dalam Tamu dibawa pergi beberapa orang pada 7 November 1967 tanpa alasan yang jelas dan tak pernah kembali lagi. Sebagai seorang Kabag, Papa Dara tidak terlibat partai apa pun. Ia pun bukan orang yang fasih dan penganut kiri. Buku-buku berhaluan kiri titipan Om Daryo di rumah pun sudah dibakar. Tamu memperlihatkan bahwa siapa saja, kiri mau pun bukan, bisa dibawa pergi dan tak pernah kembali pada fase pembantaian 1965. Kenangan akan ayah yang dibawa pergi dan tak pernah kembali menjadi kenangan teramat menggetirkan bagi Dara dan daradara yang lain.

Dalam Kami Bongkar Rumah Kami yang mengangkat tokoh generasi ketiga dari sebuah keluarga, rumah menjadi saksi kesengsaraan keluarga besar sang algojo di pembantaian 1965. Semenjak salah satu anggotanya menjadi Sang Pembelih, rumah itu tak urung dirundung malang. Betapa tidak. Selain seluruh penghuni rumah, kecuali Sang Pembeli atau Pak Min, menanggung beban moril, mereka pun harus menghadapi kesintingan Pak Min. Ketika suara-suara sayatan 1965 menghantui lagi Pak Min di tahun 1980-an, ia akan mencari apa saja, membuat kegaduhan bagaimana saja, sampai ada suara-suara teriakan yang mendiamkan suara sayatan yang menghantuinya. Pada 2006, generasi yang mendiami rumah itu pun berinisiatif merenofasi rumah itu. Mereka pun berencana membangun sebuah taman dengan pohon-pohon cemara untuk menggantikan pekarangan yang tak terurus dengan sepuluh pohon kelapanya agar …mengingatkan kami bahwa kami hidup pada tahun 2006 dan bukan berada di tahun 1967…

Rupanya peristiwa di 1967 bukan saja menyisahkan kegetiran bagi Dara yang ayahnya dibawa pergi dan tak pernah kembali, tetapi juga menyesakan dan menghantui keluarga besar Pak Min sang eksekutor. Keduanya mencandrakan bagaimana peristiwa seputar 1967 tidak memberikan keuntungan apa-apa untuk siapa pun. Yang mengeksekusi dan yang dieksekusi sama-sama menderita. Tetapi, tentu saja ada yang memancing dan mendapat untung di air keruh.

Dalam Pesta Terakhir (Koran Tempo, 21 Desember 2003) karya Linda Christanty, ‘yang mengeksekusi’ dan ‘yang dieksekusi’ menjelma satu tubuh; dalam tokoh Lelaki Tua. Dari tahanan politik peristiwa 1965 di Penjara Salemba, ia menjelma seorang juru catat yang menjebloskan teman-temannya ke penderitaan yang lebih parah. Dari menderita di penjara, hidupnya berubah menjadi begitu penuh materi karena kerja spionasenya itu. Namun di hari tuanya, Pak Tua merenungkan kembali perjalanannya dan menyesali diri. Ia hendak membuat pengakuan ketika pada Mursid, sesama aktifis Lekra yang dijebloskan ke penjara waktu itu. Namun sayang, sebelum hal itu tercapai, cucunya mengalami kecelakaan. Lelaki Tua pun berlari menyelamatkan cucunya dan tak sempat membuat pengakuan. Betapa peristiwa 1965 menyimpan begitu banyak teka teki kecil dan misterimisteri kecilnya yang bisa saja tak akan pernah terungkapkan.

Cerpen Sejumlah Konon di Rumah Loteng (Suara Pembaruan, 15 Juli 2007) karya Agus Dermawan T bagaikan puzzle kenangan dengan bongkar pasang kisah yang berganti-ganti. Setiap kisah dihiasi konon. Misalna … konon pada bulan Agustus tahun 1942, atau sampai akhirnya datang ke telingaku sebuah konon yang lain. Dengan menggunakan kata konon, kisah-kisah kecil akibat gejolak sosial politik negeri ini menjadi ‘isapan jempol’ semata, bukan sebuah realitas sejarah yang harus serius digarap. Begitu juga konon lain yang mengisahkan … Pada bulan Desember 1965 rumah itu tibatiba digedor-gedor sekelompok orang. Dikatakan oleh orangorang tersebut bahwa si penghuni rumah menyembunyikan seorang buron di atas loteng. Maka, bisa saja begitu lama cerita getir tentang para korban peristiwa-peristiwa berdarah di negeri ini, seperti para penghuni Rumah Loteng yang berganti-ganti itu, hanya menjadi sebuah ‘konon’, semacam dongeng pengisi waktu senggang.

Berat Hidup di Barat (Kompas, 9 Mei 2004) karya sastrawan eksil Soeprijadi Tomodihardjo menceritakan kisah Eric Sullivan, seorang eksil dari Addis Ababa, Ethiopia. Eric Lewat tokoh aku diceritakan mengalami adaptasi yang setengah-setengah di lingkungan barunya, sebuah flat di Jerman(?). Akibatnya, gaya hidupnya dan kebiasaannya yang berbeda dengan orang-orang sekitar membuat keluarganya dikucilkan. Eric Sullivan sebenarnya adalah proyeksi kehidupan tokoh aku sendiri yang adalah seorang eksil Indonesia. Sesuai judulnya, Berat Hidup di Barat menggambarkan bagaimana sulitnya para eksil di luar negeri memluai hidup baru di tanah baru, jauh dari lingkungan asalnya. Namun mereka tetap bertahan,seperti Eric Sullivan yang sampai kini masih tinggal di flat itu dengan anaknya yang kini sudah lima orang.
***
Karya sastra selalu mengiringi setiap perubahan sosial dan masyarakat. Walau pun jarang menjadi narasi besar dalam kehidupan, sastra selalu turut mewarnai, merefleksikan, memberi nilai pada kehidupan dan perubahan kehidupan itu sendiri.

Cerpen-cerpen yang disebutkan di atas tidak mengangkat tokoh-tokoh besar, para pelaku sejarah
yang menjadi kanon. Seorang pegawai negeri kecil (Tamu), seorang pengkhianat yang resah di masa tua (Pesta Terakhir), para penghuni rumah loteng (Sejumlah Konon di Rumah Loteng), seorang penjagal dan keluarga yang menanggung malu (Kami Bongkar Rumah Kami) adalah mungkin tokoh-tokoh kecil yang cepat terlupakan kehidupan. Namun melalui cerpen-cerpen ini, kita diingatkan bahwa perjalanan bangsa pernah mengorbankan mereka. Karena pada dasarnya, sastra yang fiksi itu merefleksikan dan menyiratkan serta menyuratkan apa yang pernah, sedang dan akan terjadi.


Peristiwa-peristiwa kecil yang menghiasi prahara 1965 di pelosok-pelosok desa dan kampung sering hanya menjadi ‘konon’. Melalui karya-karya sastra, sadar atau pun tak sadar, peristiwa-peristiwa kecil itu masuk ke benak kita dan menyadarkan kita akan kerja renovasi yang belum dilakukan, yang belum dirampungkan. Arkian, kesalahan-kesalahan masa lampau harusnya tak pernah lagi ada, amnesia sejarah mestinya disembuhkan secepatnya.*** 

(dipublikasikan pertama kali di media populer alternatif PendarPena Nomor 10, Tahun Pertama, September2008)

Rabu, 11 September 2013

BERSAMA ECO DI AMBANG MODERINTAS

Judul               : The Prague Cemetery
Pengarang      : Umberto Eco
Penerjemah     : Nin Bakdi Soemanto
Tebal               : vii + 612
Penerbit           : Bentang (Yogyakarta, 2013)

            Umberto Eco adalah nama yang tak asing bagi pencinta sastra dan filsafat di dunia pun pula Indonesia. The Name of The Rose, novel pertamanya, sudah berhasil mengukuhkannya sebagai sastrawan besar dunia. Eco tak bisa sekadar kita lihat sebagai sastrawan kelas wahid dunia. Ia juga seorang filsuf, terkhusus semiotika, yang diundang memberi kuliah di universitas-universitas termuka dunia. Selain itu, pakar sejarah abad pertengahan Eropa adalah titel yang tak salah disematkan padanya. Dan saya kira, tiga kemampuannya itu bermuara penuh pikat dalam novel teranyarnya, The Prague Cemetery.
            The Prague Cemetery berkisah tentang Eropa abad ke-19; Eropa yang dilanda badai pencerahan. Abad Pencerahan terutama dicirikan oleh pemahaman bahwa manusialah titik awal dan tujuan dari dunia dan kehidupan. Yang terpenting adalah manusia yang berpikir. Cogito ergo sum—aku berpikir maka aku ada—demikian diktum terkenal Rene Descartes, filsuf Aufklaerung. Dalam The Prague Cemetery, setelah Bab I berisi narasi narator pertama, Eco lantas mengajukan judul Bab II yang sangat berciri pencerahan ini, “siapakah aku”. Setelah itu, mengalirlah pada kita cerita tentang Eropa pada abad itu.
            Eropa abad ke-19 diceritakan melalui seorang figur yang katakanlah berada di dua kaki. Ini salah satu kecemerlangan The Prague Cemetery yang membuat kita menganga. Simonini hidup bersama kakeknya, seorang pembenci Aufklaerung yang merongrong kesucian Gereja. Dalam sejarah, masa sebelum Aufklaerung dikenal sebagai Abad Kegelapan yang dicirikan oleh kekuasaan Gereja Katolik dengan Tuhan sebagai yang terutama. Di sisi lain, ayah Simonini adalah anak zaman Aufklaerung. Ayahnya sangat membenci gereja, terkhusus Jesuitisme yang justru adalah kawan-kawan karib Kakeknya. Dari Sang Kakek Simonini mendapatkan warisan pemikiran Abad Pertengahan dan melalui Ayahnya, ia mendapatkan faham-faham progresif ala Aufklaerung. Eco mengajukan tokoh protagonis utama, Simonini, sebagai potret kegamangan manusia yang berada pada perarlihan zaman. Pada Simonini, semangat zaman sebelumnya tak hilang begitu saja, bersamaan dengan itu, semangat zaman baru pun merasukinya.   
            Dua hal berbeda yang terjadi di masa kecil Simonini mewarnai keseharian selanjutnya. Dan The Prague Cemetery berhasil menghadirkan Eropa abad 19 secara lengkap—ide Aufklaerung, komunisme, psikologisme, feodalisme, gereja, dan Semitisme—lantaran tokoh utamanya adalah Simonini yang berada pada persimpangan ini. Dengan latar belakang diri yang mengetahui seluk beluk kekuasaan lama dunia (Gereja) dan ide-ide kemajuan, serta pencerahan, Simonini leluasa memasuki segala relung Eropa abad ke-19. Dari Perayaan Ekaristi Setan hingga Komune Paris, dari sang pemberontak Garibaldi hingga penulis kenamaan Dumas dapat dirangkai Simonini. Untuk itu, Eco harus menciptakan tokoh fiktif—seperti keterangan yang diberikan pada halaman 604-605—Simone Simonini yang kuat.
Eco pada hemat saya mematahkan cara bertutur sastra konfensional. Galibnya, untuk menceritakan kisah secara lengkap, penulis menggunakan sudut pandang ‘orang ketiga serba tahu’. Sedangkan sudut pandang ‘akuan’ biasanya akan terjebak pada penceritaan hanya pada satu sudut saja. Eco justru menggunakan sudut pandang ‘akuan’. Namun ‘akuan’ Eco adalah ‘akuan serba tahu’. Untuk itu, Eco mempersiapkan dengan teliti tokoh ‘akuan’-nya, Simone Simonini.
Namun, Eco terlalu pandai untuk menciptakan Simonini bak manusia super. Isi kepala Simonini memang mendua. Konsekuensinya, dengan memanfaatkan pengetahuan yang katakanlah briliant atas ilmu psikologisme pra-Freud, Eco memberi konsekuensi yang tak gampang untuk tokohnya. Simonini mengidap kepribadian ganda. Namun, kepribadian gandai ini pun dengan lihai dimanfaatkan Eco untuk menciptakan puncak-puncak konflik The Prague Cemetery.
The Prague Cemetery adalah sejarah Eropa yang digambarkan dengan lihai dan piawai. Fakta-fakta sejarah berpadu dongeng yang menjelma novel sejarah nan memukau. Dalam The Prague Cemetery kita menyaksikan tarikan antara pola pikir dan penguasa dunia lama, Gereja, berhadapan dengan pola pikir yang baru, modernisme/individualisme. Kita pun bahkan mampu mencium akar dari Perang Dunia II di dalam novel ini. Dalam Perang Dunia II kita tahu ada sebuah narasi besar yakni pembantaian atas Ras Yahudi oleh Hitler dan Nazinya. The Prague Cemetery rupanya menunjukkan pada kita bagaimana akar dari kebencian atas Yahudi itu terjadi di Eropa, bahkan sebelum Perang Dunia I.

The Prague Cemetery pada hemat saya adalah sebuah novel sejarah yang mendekati sempurna. Pengetahuan sejarah yang baik dan kelihaian memanfaatkan pengetahuan itu dalam sebuah narasi cerita menampak dalam novel ini. Rupanya dengan novel Umberto Eco ini kita bias belajar dan mengukur kualitas novel sejarah dalam negeri kita. Semoga kita banyak belajar dari The Prague Cemetery dan Umberto Eco. 

Minggu, 21 Juli 2013

Cinta: Dari Derita Menuju Cita



Judul buku       : Konglomerat dan Cinta
Editor              : Nurinwa Ki S. Hendrowinoto
Tahun terbit     : 1993
Penerbit           : Puspa Swara, Jakarta
Tebal               : X + 182

Sebagai salah satu varian posmodernisme, sastra Indonesia beberapa tahun terakhir menggali kembali karya-karya yang lama tak dilirik. Terbitnya Sastra Melayu Tionghoa oleh KPG dalam beberapa jilid semakin memakhtubkan pengakuan terhadap jenis-jenis tulisan seperti ini. Adalah cerita lama bahwa karya-karya ini sungguh sangat lama tak dilirik oleh sejarah sastra Indonesia.
            Buku Konglomerat dan Cinta adalah kumpulan dua roman, yakni Lou Fen Koi karya Gouw Peng Liang dan Soepardi dan Soendari karya Tan Hong Boen. Kedua roman yang terbit pada 1903 dan 1925 ini, termasuk karya sastra yang sempat terpinggirkan itu. Ketersingkiran karya-karya sastra semacam ini sebenarnya bila ditarik akarnya dimulai dari diberlakukannya kebijakan politik bahasa dan penerbitan oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu.

***
Pada medio abad 18 lalu, dunia kapitalisme dan perkembangan teknologi percetakan merambah Hindia Belanda. Pada awalnya, hanya orang Belanda yang berkecimpung dalam dunia usaha baru ini, lalu diikuti orang Tionghoa, kemudian barulah pengusaha percetakan pribumi. Lalu pada 1917, tatkala Balai Poestaka menjadi penerbitan resmi milik pemerintah kolonial, bertambahlah akselerasi produksi buku-buku yang menggunakan Bahasa Melayu Tinggi. Selain dari yang diterbitkan Balai Pustaka dianggap bacaan liar dan rendahan biasanya menggunakan bahasa Melayu Pasar. Maka, masuklah pula kita pada politik bahasa, di mana pertarungan diam-diam bahasa Melayu Rendah dan Melayu Tinggi. Bahasa Melayu Tinggi pada akhirnya mengalahkan Melayu Rendah; bermetamorfosis menjadi Bahasa Indonesia (Baca: Hilmar Farid dalam Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim (ed), 1996; dan pengantar Daniel Dhakidae pada buku Imagined Communities: Komunitas-komunitas Terbayang, (versi Indonesia) Benedict Anderson, 2001).
            Celakanya, warisan kolonial Belanda dan “ketaksengajaan” para founding father ini dituruti oleh para pengamat sastra dan bahasa Indonesia. Saya kira, keterasingan itu semakin asing lantaran kemelut sosial politik Indonesia pasca kemerdekaan yang membatasi ruang napas WNI peranakan. Dalam buku ini kita bisa menemukan nama-nama tokoh semisal Lo Nam Koei atau Poei Laij Nio bersanding dengan nama tokoh semisal Demang Tabrie dan Haji Sa’ari. Fenomena penggunaan nama tokoh dalam karya sastra yang demikian sungguh jarang kita lihat pada karya-karya sastra Indonesia jaman Orba. Proses dominasi dan penghilangan etnis tertentu dalam karya sastra Indonesia turut menghilangkan ciri-ciri unik dari sastra Tionghoa Peranakan yang subur berkembang di masa sebelum kemerdekaan.
Dikotomi warisan kolonial yang membedakan sastra Tinggi (Balai Poestaka) dan bacaan rendahan (penerbitan liar), dengan alasan-alasan estetis politisnya, ditunjang pandangan umum akan bacaan populer yang cukup negatif. F.R. Leavis dan Denys Thompson misalnya menyalahkan fiksi populer karena menawarkan bentuk adiktif berupa ‘kompensasi’ dan ‘distraksi’ (dalam Storey, 2007). Padahal, jika produk Balai Poestaka selalu melewati sensor, bacaan liar kerap tidak tersentuh sensor ini. Tentu bacaan populer saat itu berbeda dengan bacaan populer masa sekarang yang lebih tunduk pada “sensor” kapitalis, ketimbang sensor pemerintah. Maka, dengan membaca bacaan populer Tionghoa Peranakan, kemungkinan untuk mendapatkan gambaran keadaan dan lingkungan saat itu secara lebih jernih dan apa adanya bisa diandaikan terjadi; sebuah pembacaan yang memungkinkan pengungkapan apa yang tak terkatakan.

Di Balik Cinta Kaum Ambtenaar dan Feodal Pedesaan.
Kedua roman yang dirampaikan dalam Konglomerat dan Cinta bertema besar Cinta. Sebagaimana bacaan populer, alurnya sederhana, tokohnya bulat, dan pesan yang disampaikannya pun terlihat begitu gamblang. Persinggungan dengan kaum penjajah pun secara gamblang tak terlihat dalam keduanya. Problem-problem yang dihadirkannya pun bukanlah problem-problem besar yang mengernyitkan dahi, semisal perbenturan budaya dalam Salah Asuhan. Latarnya pun sederhana dan dominan pada suatu tempat saja, tidak sejelimet Siti Noerbaya. Hal ini menggambarkan sungguh-sungguh posisi keduanya sebagai bacaan rakyat. Hal ini diperkokoh lagi dengan tidak adanya persinggungan dengan kaum penjajah, problem orang terjajah, karena bagaimana pun juga kerap problem seperti itu adalah milik kelas menengah ke atas di Hindia Belanda.
            Sebagai bacaan rakyat, bacaan populer, Lou Fen Koi serta Soepardi dan Soendari menghadirkan permasalahan yang benar-benar milik kaum bawah, masyarakat biasa. Lou Fen Koi yang lebih menceritakan kehidupan para warga Tionghoa menggambarkan bagaimana di antara sesama warga Tionghoa pun terjadi saling menindas. Yang lebih berkuasa dan kaya menindas yang lebih lemah dan miskin. Lou Fen Koi yang kaya dan berkuasa mendatangkan kesusahan pada keluarga Tan Hin Seng yang seorang penjual sayur miskin di pasar. Hal itu terjadi lantaran cinta birahi Lou Fen Koi pada anak gadis perawan Tan Hin Seng, nona San Nio, yang ditolak mentah-mentah oleh si tukang sayur itu.
            Dari cerita Lou Fen Koi terlihat bagaimana pada masa itu anak gadis tidak punya pilihan atas hidupnya. Stereotip pada warga Tionghoa (kaya, kikir, dsb) yang kerap memicu konflik etnis diruntuhkan pula oleh roman ini. Warga Tionghoa yang diceritakan Gouw Peng Liang sungguh beragam. Di roman ini pun kentara sekali praktik suap dan korupsi serta penyalah-gunaan kekuasaan yang sewenang-wenang. Namun demikian, roman ini pun menghadirkan sosok panutan dalam diri Souw Gi Tong, orang muda yang kaya, berpendidikan, halus budi bahasanya dan baik hati. Melalui tokoh inilah, keadilan dan kebenaran dapat ditegakkan, meskipun Souw Gi Tong sendiri harus mendapatkan kesusahan karenanya.
Roman ini tetap masih mengandaikan adanya kekuasaan di tangan orang baik dan yang menggunakan segala kekuasaan dan pengaruhnya untuk mewujudkan keadilan. Tak ada sebuah sistem yang dipercayai mampu mengharmoniskan kehidupan. Yang ada adalah pertarungan antara kekuasaan yang satu dengan kekuasaan yang lainnya. Minimal, roman ini masih memberikan pengharapan pada masyarakat pembacanya bahwa ada kebaikan di tengah sistem yang buruk. Bahwa sistem yang buruk itu adalah reranting kecil dari jejaring sistem pemerintahan Kolonial Belanda, tentu tak sukar dibayangkan. Sebuah warisan yang ada hingga saat ini.
             Soepardi dan Soendari adalah karya Tan Hong Boen, seorang penulis yang juga memakai nama samaran Im Yang Tjoe. Tan Hong Boen adalah wartawan yang sering mengkritik Belanda dan sering mendekam di penjara karenyanya. Ia juga menulis biografi Bung Karno, terinspirasi ketika keduanya dipenjarakan di penjara yang sama. Selain itu, ia juga menulis sejumlah roman dan novel yang menarik Di samping biografi Bung Karno itu Tan Hong Boen menulis sejumlah novel yang menarik. Ia dikenal luas lantaran bukunya berjudul Orang-orang Tionghoa Terkemuka di Pulau Jawa (Monna Lohanda, 2004). Soepardi dan Soendari adalah roman pertamanya yang dimuat di majalah Penghidoepan (1925-1942).
            Roman ini mengambil latar peristiwa gempa bumi 12 November 1924 di desa Bandingan Jawa tengah sebagai latarnya. Seperti Lou Fen Koi, latar, konflik dan penokohannya pun bisa dibilang sederhana. Soepardi yang seorang pemuda miskin jatuh cinta pada Soendari, anak orang terkaya di desa Bandingan. Tentu cinta ini mendapat banyak rintangan, namun pada akhirnya, mereka bersatu juga. Soepardi dan Soendari menyuguhkan akhir cerita yang menggenaskan; kematian dalam bencana gempa, setelah perjalanan panjang demi penyatuan mereka berakhir dengan rencana pernikahan yang direstui orang tua Soendari. Namun apa daya, kematian jualah yang menjemput mereka; bahwa hidup hanya sekadar singgah, bukan abadi.

***
Hal yang patut dicatat dari kedua roman ini adalah selalu ada tempat, keadilan, dan kebahagiaan untuk masyarakat kelas rendahan. Keadilan ada di Lou Fen Koi dan kebahagiaan cinta ada dalam Soepardi dan Soendari, meski pun yang terakhir ini harus tunduk juga pada kehendak Yang Ilahi. Dua novel ini memang novel yang pembacanya adalah masyarakat rendahan, masyarakat Hindia Belanda kala itu yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Terlihatlah di sini sebuah janji yang emansipatoris dihadirkan dalam ruang-ruang kehidupan pembacanya. Sehingga bisa saja kita mengatakan, bacaan-bacaan liar, populer jaman itu adalah bacaan-bacaan yang memberikan pengharapan, setidak-tidaknya memberikan pegangan pada masyarakat kecil itu akan pengharapan keadilan dan kebenaran cinta. Sehingga, hidup di tengah-tengah isapan penjajahan dan kaum ambtenaar yang lebih sering menyengsarakan bisa menemukan pengharapan dari bacaan-bacaan liar dan populer ini. 

**Catatan: dipublikasikan di "PendarPena Vol 2 No 3 Februari 2009"; Tema: "Cinta sebagai Komiditi Budaya Populer".


Raja yang Samar-samar




Judul Buku    : Radja Ketjil: Badjak Laut di Selat Malaka
Pengarang      : H. Rosihan Anwar
Penerbit          : Indira, Jakarta, 1967
Tebal              : VII + 173

Adalah seorang tokoh sejarah yang ceritanya pun samar-samar sampai pada kita yang dikisahkan Rosihan Anwar dalam buku ini. Ialah Radja Ketjil yang kerap dikenang juga dengan berbagai nama; Radja Hitam, Ibahim, Ibn Iskandar. Banyak pula dugaan-dugaan tentang asal-usul tokoh yang satu ini. Selain dispekulasikan berasal dari Minangkabau, dia juga diduga sebagai anak dari Sultan Mahmud Sjah II dari Djohor
Suatu keuntungan dari genre novel sejarah pada hemat saya adalah kemampuannya membawa pembaca pada suatu hal yang beda sama sekali dengan keseharian sang pembaca. Dalam hal ini masa lalu; masa yang lebih sering dilihat oleh masyarakat masa kini sebagai sebuah masa yang eksotis dan menyimpan misteri. Apalagi di tengah kemerosotan sebuah jati diri kebangsaan dan kebanggan sebagai bangsa yang kian melemah akibat keterpurukan bangsa di kancah dunia, novel sejarah yang menceritakan kehebatan, keindahan, kecemerlangan dan keperkasaan bangsa di masa dahulu adalah sebuah penyejuk nan segar untuk pembaca yang tak mau memandang realitas sekarang dengan teguh dan mau melawannya. 
Maka, hal-hal lain dalam novel bisa saja terlupakan apabila novel sejarah tersebut menggambarkan secara umum saja kehidupan di masa lalu dan segala variannya. Niscaya, setting yang berbeda dengan keadaan pembaca sekarang, lian yang dihidupkan di tengah pembaca yang terbebani rutinitas, akan diterima pembaca sebagai keindahan, sebagai sebuah kebenaran masa lalu yang tentu saja membawa nostalgia. Maka, terselamatkanlah, kalau ada, ketimpangan-ketimpangan lain novel sejarah oleh settingnya yang lian itu. Sebab, pembaca novel bukanlah pembaca sejarah yang bisa membedah mana realitas sejarah yang patut berterima dan mana yang tak patut diterima.
Nah, apa yang dibeberkan panjang lebar di atas itulah salah satu keuntungan novel Rosihan Anwar ini. Dengan mengantongi indentitas novel sejarah, apalagi dengan tema kelautan yang jarang digarap itu, Rosihan Anwar berhasil menelorkan sebuah novel yang cukup enak dibaca, dalam pengertian enak dipandang sebagai sebuah realitas yang lian dengan realitas kita sekarang.
                                                                       
  ***
Ada juga selentingan sekadar candaan bahwa untuk ‘menyelamatkan’ sejarah yang samar-samar, maka tuliskanlah ia menjadi sastra. Dengan selentingan seperti ini, kita sebenarnya punya sebuah masalah. Fakta sejarah terkadang dipakai hanya sebagai alat untuk mengembangkan imajinasi fiksional yang lantas melahirkan novel sejarah. Namun terkadang juga, dengan merujuk selentingan itu bila pun benar, novel sejarah adalah alat untuk tak menyia-nyiakan fakta sejarah yang masih dipertanyakan dan masih belum rampung.
 Tengoklah bagian epilog novel Radja Kecil ini. Di sana dituliskan Rosihan Anwar: “…Segalanya ini menimbulkan kesulitan dalam menceritakan riwayat Raja Kecil menurut kejadian yang sebenarnya. Dari berbagai versi ini haruslah dilakukan suatu pemilihan. Untunglah dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu novella-sejarah, dengan accent atau tekanan pada novella, sehingga di sana-sini terbuka kebebasan yang lumayan bagi pengarang melukiskan bahan ceritanya”. Pernyataan ini sungguh mengganggu pembacaan novel ini pada hemat saya. Terkesan seolah-olah karena sulit menuliskan kisah Raja Kecil yang sebenarnya, maka penyelamatannya adalah menuliskan novel sejarah.
Sastra dan sejarah sungguh berbeda sebenarnya dalam fungsi dan gayanya. Sastra menghadirkan sebuah kisah fiksi yang mampu mengajak pembaca berefleksi dan mengkreasikan sebuah realitas fiksional yang baru. Sedangkan pengetahuan sejarah adalah pengetahuan untuk memahami masa lalu, yang bisa dijadikan cerminan hari ini dan hari nanti. Jadi, sungguh sayang bila novel sejarah dianggap sebagai penyelamatan fakta sejarah yang kabur dan samar-samar. Memang, Rosihan Anwar menulis sebuah novel di mana dia bisa bebas mengkreasikan kisah. Namun pernyataan di bagian epilog yang dikutip di atas, mengganggu sungguh atas sebuah pembacaan novel.
Terlepas dari masalah itu pun, novel Raja Kecil tidak penuh sebagai sebuah novel. Dalam pengertian, ia tidak mencirikan sebuah novel yang baik. Walau pun berjudul Raja Kecil, novel ini tidak seratus persen menjadikan tokoh Raja kecil sebagai sentral cerita. sebagai individu yang utuh. Rosihan Anwar hanya sekadar menggambarkan Raja Kecil yang di permukaan saja. Siapa dia, kedudukannya, sepak terjangnya dalam perang dan beberapa hal yang tidak personal lainnya. Namun, hal-hal personal seperti perasaannya, dialog-dialog batin dan visi hidupnya tidak dieksplorasi secara mendalam dalam novel ini. Maka, novel ini terkesan hanya sebagai review saja dari sepak terjang Raja Kecil dalam kedudukannya sebagai seorang raja.
Berbeda misalnya bila kita membaca Dokter Zhivago—sebuah novel sejarah juga saya kira—di mana tokoh sentral ada pada Yuri Zhivago. Dalam Raja Kecil, seperti yang pernah diungkapkan juga oleh Ajip Rosidi dalam Pelopor Baru (16/7/97), tokoh Raja Kecil tidak mengambil posisi seperti posisi Yuri Zhivago dalam Dokter Zhivago.
            Meskipun demikian, novel ini sungguh berhasil dalam hal menggambarkan keadaan perniagaan Selat Malaka di tahun 1770-an, kehidupan di kota-kota pelabuhannya dan juga kehidupan para bangsawan, para perompak dan juga perpolitikan antar suku yang suka mengembara di perairan nusantara. Bagaiamana kelompok pelaut bugis muncul yang dianggap oleh kebanyakan orang hanya bis berkelahi, dan bagaimana perpolitikan mereka di wilayah perniagaan nusantara adalah salah satu contoh keberhasilan novel ini.
            Akhirul kalam, novel Raja Kecil patut kita beri tempat yang layak karena keberaniannya mengangkat setting dan latar cerita dari sebuah kurun waktu yang sudah samara-samar diketahui. Rosihan Anwar berhasil menerawang sebuah keadaan masyarakat maritim dan kegiatan maritim nusantara di era 1770-an, ia berhasil menerawang hingga 2 abad lalu (buku ini sendiri diterbitkan tahun 1967). Keberhasilan mengangkat dan menggambarkan keadaan masyarakat dan keadaan perniagaan maritime zaman itu, sayang tak diiringi keberhasilannya dalam membangun tokoh cerita yang benar-benar bulat, yang benar-benar menampilkan dirinya sebagai tokoh manusia seutuhnya.

*Catatan: dipublikasikan di "PendarPena Edisi 11 Oktober 2008 Tahun I" - "Tema: Maritim Nusantara".