Minggu, 15 Mei 2011

PARADE PESAN DAN BERITA TERSENDAT

tulisan ini pertama kali dipublikasikan di JakartaBEatNEt



Cerpen oleh Berto Tukan
“Eh, nanti sore jadi kan di TIM?”
Begitu bunyi sms-nya. Dengan malas, kulemparkan handphone ke kasur. Aku kembali pada tugas kuliah yang menunggu dua bulan untuk digarap. Bangsat! Light makes possible, then, this enveloping of the exterior by the inward, which is the very structure of the cogito and of sense. Apa maksud Levinas dalam kutipan dari Existence and Existents, hlm. 41 ini? Jelaskan dan beri catatan kritis paling sedikit empat halaman paling banyak tujuh halaman.
Baru satu halaman ketikan, aku sudah kehabisan akal untuk berbincang seputar cahaya, noema, epoche, pengetahuan, persepsi, bla bla bla bla…. Ah, aku teringat sesuatu. Sambil duduk, aku berbalik 180 derajat. Bangsat! Handphone terlalu jauh kulemparkan. Ia teronggok di sudut paling kiri kasur. Aku bangkit. Sedikit malas. Printer di samping meja komputer tertendang tak sengaja. Ngilu.
            “Aduh,” makiku.
            Kuambil handphone. Kotak masuk—Buka—Jawab, “Siip.Jadilah skitar jam 5-an.” Kirim. Beres.
            Kami akan bertemu lagi petang nanti setelah pertemuan pertama dua atau tiga tahun silam. Firasaftku, dia sudah menjelma dewasa dengan segudang pengalaman yang memperkaya hidupnya dalam rentang waktu itu sedangkan aku masih tetap seperti dahulu dengan bosan menggantung di ujung setiap aktifitas.
***
Petang di depan TIM, hujan rintik-rintik turun dengan malas. Di Depok pasti petir membahana. Kubayangkan sebuah pohon karet tua terbakar dan dua bocah SD kelas dua yang tinggal di Jagakarsa ikut tewas. Aku turun dari ojek. Kupandangi polo shirt putih dan jeans coklatku. Sedikit kuendus aroma ketiak.  Ah, tak terlalu berkeringat, walau pun tak harum-harum benar. Entah kenapa, aku ingin terlihat rapih sore ini walau pun kenyataannya tidak demikian. Kusodorkan selembar 50 ribuan pada Tukang Ojek.
“Wah, baru narik nie, Dek.”
Tak mau buang waktu, aku bergegas ke counter pulsa di samping jalan.
“Simpati sepuluh ribu, Bang,” sambil menyodori lima puluh ribuan lalu menuliskan nomor handphone di buku tulis lusuhnya.
Penjual pulsa yang segar selesai mandi sore mengambil Nokia 3530-nya yang berbalutkan karet gelang, memencet-mencetnya sambil melihat nomor handphone yang kutulis di buku tulis lusuhnya.
“Boleh minta kembalian ceban dulu? Ojek nunggu nih.”
Tanpa mengalihkan pandangan, Si Penjual pulsa menyerahkan selembar sepuluh ribuan. Tak berapa lama, lembaran merah itu berpindah ke tangan Tukang Ojek. Aku kembali lagi ke counter pulsa, mengambil sisa kembalian, dan beranjak dari situ.
Kuambil handphone. Menu—olah pesan—pilih—buat pesan—pilih—pesan—pilih—tambah—kontak—pilih—mengetik inisialnya di phonebook—pilih, “dah d mna? Gw d dpn TIM.”
Beberapa menit berselang, dia menelepon.
“Hei hei, jalan lurus aja ke depan di tenda-tenda itu, aku lagi di salah satu bangkunya.” Suaranya seperti lagu yang belum final digubah. Mengingatkan pada gadis kecil menyanyikan Mr. Lonley di pinggir jalan berduet dengan Diana Krall di balik piano.
“Oke”. Kumatikan handphone.
Dia melambai. Ah, itu dia. Aku sedikit lupa dengan wajahnya, namun beberapa detik memandang, aku langsung yakin inilah orangnya. Setiap orang memang berbeda namun dia termasuk jenis orang yang perbedaannya dengan orang lain sungguh besar atau memang aku tidak pernah bertemu orang dengan tipe seperti dia selain dia sehingga mengingatnya kembali bukan perkara sulit untuk kepalaku. 
Aku menarik kursi di depannya. Ada empat kursi di meja itu dan kami menggunakan dua di antaranya. Salah satu kursi di sampingnya digunakannya untuk meletakkan tas ransel hitamnya.
“Eh, boleh minta waktu empal puluh lima menit? Aku mau menyelesaikan tulisan dulu, setelah itu kita berbincang-bincang. Oke?”
“Siip. Bebas.” Jawabku.
Ia kembali berkonsentrasi dengan laptopnya. Aku beranjak ke cashier dan memesan segelas kopi hitam.
Seorang teman pernah berkata demikian untuk menggambarkan bagaiamana ia kehilangan jejak seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, “Kelihatannya, kuasa yang tadi begitu nyata adalah kuasa yang bengis dan semena-mena. Untuk beberapa saat aku jatuh cinta, dan segera setelah itu aku patah hati tanpa sempat melakukan apa-apa.”
 Kurang dari waku yang diproklamirkan, ia sudah selesai. Ia menawariku membacanya setelah menjelaskan panjang lebar latar belakang tulisan itu.
”Mau dikirim ke koran,” katanya.
Aku membaca dengan saksama.
”Bagus,” pujiku setelah selesai membaca sekali.
”Ada yang kurang atau janggal?”
Aku membaca lagi. Yah, ada beberapa kalimat yang tak lengkap dan jika susunannya sedikit dirubah tulisan itu akan jadi lebih menarik. Kuutarakan itu kepadanya dan dia menyetujui untuk merubahnya. Tentu dengan sedikit tukar pikiran. Batteray laptopnya hampir habis. Kafe tenda itu tak menyediakan colokan listrik.
Kami lantas beranjak dari situ. Sebelumnya, kuserahkan sebuah zine pesanannya dan dia membayar sesuai harganya. Namun zine yang menjadi alasan pertama pertemuan tiba-tiba kehilangan jimatnya. Ia serupa kata ’lantas’ di antara ’bangun pagi’ dan ’minum kopi’.
Kami menemukan sebuah saung dekat jalan raya. Di situ, anda bisa lesehan di depan meja rendah dan—yang terpenting—terdapat colokkan listrik.
Aku lalu membaca kembali tulisan itu, lalu dia mengedit, kami memesan makanan, aku membaca lagi tulisan itu dan mengeditnya. Beberapa kali dia membalas sms, beberapa kali dia menerima telepon dan juga sekali atau dua kali dia menelepon. Sedangkan handphone-ku sepi-sepi saja.
Seorang pria datang. Rasa asing tiba-tiba menghinggapiku; rasa yang biasa, sama seperti ketika seorang lelaki separuh baya menegurmu di sebuah stasiun kereta kecil. Selesai makan, aku pamit pergi. Pertama karena rasa asing yang menghinggap, kedua karena sms masuk yang menyuruh untuk segera datang ke Rumah Sakit.
”Oh, gitu. Kasih judul dulu dong? Kepalaku sudah lelah.”
”Siiip,” jawabku. Lantas mengetikan empat kata di kepala tulisannya.
”Udah. Gua rasa begini sudah oke,” ujarku sambil kembali menyodorkan laptop ke hadapannya.
”Thanks Ya.”
”Yo”, jawabku sambil mengikatkan tali sepatu.
Berjalan perlahan ke depan, kurasakan banyak pertanyaan belum sempat terlontarkan. Kok bisa jadi PNS? Emang di kantor sebelumnya kenapa? Eh, skripsinya waktu itu jadinya tentang apa? Waktu itu ke Depok ngapain? Teman gua sempat ngeliat lu sendirian di meja biru. Masih sering kontak-kontakan ama Sinta? Sekarang tinggal di mana? Ga ngambil S2 dulu aja?
Dalam tahun-tahun yang terlewati, beragam orang datang dan pergi. Wajar. Semuanya wajar. Terkadang singgah beberapa jenak, ada pula yang menetap beberapa saat. Wajar. Semuanya wajar. Yang singgah beberapa jenak, lantas pergi lagi, dan engkau tahu suatu saat akan bertemu dengannya lagi. Ketika pada suatu malam engkau tahu dengan pasti bahwa orang itu akan kau temui esok pagi dan pada malam yang sama engkau tahu bahwa orang yang sama sudah meninggal setahun yang lalu, ah, hidup penuh dengan cerita yang mengejutkan.
Lantas kau bertemu kembali dengan seseorang yang dalam beberapa menit berbagi udara denganmu dalam sebuah bajaj yang mengarah ke selatan di suatu petang dua atau tiga tahun silam. Kau tentu tak sadar, berita-berita kecil dan kisah-kisah kecil tentangnya yang sempat kau dengar dalam hidup membosankanmu adalah spolier-spoiler kecil yang mempersiapkan dirimu untuk suatu kisah tanpa jedah dan final yang siap menyingkapkan dirinya di masa depan. Baik-baiklah membaca tanda. Engkau hanya sebutir debu yang dipermainkan semesta. Baik-baiklah menyimak bisiknya.     
Di depan TIM, beberapa bajaj sedang diparkir. Kuputuskan untuk menggunakan jasa salah satunya.
”Carolus, Bang. Berapa?”
”Lima belas ya.”
Ceban deh.”
Bapak Tua itu langsung membuka pintu belakang bajaj dan menyilahkan masuk. Aku segera naik. Bajaj melaju dengan malas. Bunyi mesinnya seperti bunyi mencret. Jalanan selepas senja di hari minggu tak serumit pada hari kerja. Aku terkantuk-kantuk. Kulepaskan ikat rambut dan membiarkan ia tak teratur jatuh di atas kursi penumpang.
Aku terbangun di depan Stasiun Cikini. Kudapati jalanan macet. Mobil tak bisa bergerak, bajaj-bajaj mengantri seperti hendak berdemo, bahkan para pengendara motor pun tak bisa menyusup di sela-sela mobil. Jalanan benar-benar padat, macet yang parah tengah berlaku. Jalanan mati. Pasti ada sesuatu yang besar tengah terjadi di depan sana, pikirku.
”Dek, di sini aja ya. Macet ga bisa gerak. Katanya seluruh Jakarta macet kayak gini. Jalanan kampung aja penuh.”
”Yah, oke deh Bang.” Setelah menyerahkan lima ribu rupiah, aku lalu turun. Menapak di trotoar, aku lantas berlari sekencang-kencangnya ke arah yang tadi dilalui. Jarak TIM dan Carolus dari Stasiun Cikini sebenarnya sama saja. Namun aku memilih kembali ke TIM. Seakan semesta membisikanku untuk memuntahkan semua tanya yang tiba-tiba menumpuk di kepala. Lagi pula tiba-tiba aku terpikirkan untuk menjejaki kembali jejak yang terlewati.
 Benar saja. Jalanan macet. Semua pertigaan, semua perempatan penuh dengan kendaraan. Semua bersambung-menyambung sampai kau tak tahu mana yang perempatan mana yang pertigaan dan mana yang bukan perempatan dan pertigaan.
Terengah-engah, aku tiba di depan TIM. Aku berhenti dan membeli sebotol Aqua dingin di pedagang asongan. Minum, beli tissue menghapus keringat, kembali menguncir rambut, menyalakan sebatang Djarum Super dan berjalan perlahan-lahan ke saung tadi seakan-akan baru turun dari taksi.
Dia masih di sana. Laptop sudah tak di depannya lagi. Gelas kopi tersisa setengah dan Dji Sam Soe Magnum di tangannya pun sudah setengah jalan.
Loh, kok balik lagi?” ia menyambar dengan pertanyaan, bahkan sebelum aku membuka  tali sepatu.
”Macet gila. Jalanan mati. Kata Abang Bajaj-nya, seluruh Jakarta macet kayak gitu sampe gang-gang di kampung-kampung pun penuh mobil, becak, bajaj, ojek, truk, macam-macam. Macet. Bisa jadi macetnya sampai besok, sampai dua minggu lagi, sebulan lagi, tahun depan, dua windu lagi, empat dasawarsa lagi, dan kita akhirnya terjebak di sini untuk selama-lamanya.” Aku berkata cepat-cepat, seperti takut kehilangan momentum. Aku lantas menjatuhkan pantat ke lantai bambu saung itu lantas merekatkan tulang belakang ke tiang penyangganya. Sedikit terasa sakit.
Dia hanya tersenyum.
”Eh, mesen minum lagi gih.” Rupanya, kelelahan yang berusaha kusembunyikan tertangkap mata purnama murungnya.
”Yooo”.
Pelayan datang menghantarkan es teh manis. Aku menyeruputnya perlahan. Masih tersisa kelelahan di dalam dada. Lari dari Stasiun Cikini ke TIM bukan pekerjaan mudah untuk manusia dengan bosan yang selalu menggantung di ujung aktifitasnya.
Kupandangi dia. Lemak menonjol dari perutnya, sebuah gigi depannya sedikit pecah dengan demikian seperti gigi yang rapuh, ada goresan di ujung mata kirinya, ada purnama murung di matanya, cara menarik rokok dengan mata sedikit dipicingkannya mengajakku kembali pada sebuah senja berganti kelam di Taman Menteng dua atau tiga tahun silam.
***
Udara tiba-tiba berubah dingin tanpa isyarat apa pun sebelumnya. Es the manis di gelas lonjong itu membeku. Tiang-tiang saung menjelma batang-batang es, abu rokok di asbak beserta asbaknya menjelma es, segalanya menjelma es, bumi seakan terlempar menjauh bertahun-tahun cahaya dari matahari.
Dua orang itu lantas saling mengerti. Berpelukan, seakan rindu membuncah melampaui kepompong nalar, mempertahankan kehangatan tubuh di tengah dunia yang tiba-tiba secara radikal berubah dingin. Mereka berpelukan semakin erat, bersitatap, saling melemparkan senyum dalam jarak satu centimeter ketika menyadari detak jantung mereka berpacu lebih cepat.
Dan Sang Bosan di lipatan kelopak mata laki-laki itu sambil tersenyum membereskan kantong tidurnya, memasukan beberapa barangnya ke dalam ransel: sikat gigi, sabun cair, tissue, handuk, geretan, rokok, lantas membersihkan lipatan kelopak mata itu dengan tissue. Setelah tak ada lagi sisa kotoran di tempat itu, ia memasukan tissue itu juga ke dalam ransel. Sambil tersenyum, Sang Bosan menatap sejenak mata lelaki itu yang menjelma samudera tenang. Tidak seperti biasanya. Ia tersenyum kembali. Sang Bosan menggantungkan ransel itu dipundaknya. Ia lantas mengeluarkan sebuah payung mungil dari kantong. Payung mungil itu mengembang, membesar sampai seukuran seperdelapan tangan orang dewasa. Sang Bosan dengan payung hitam di tangan melompat dan membiarkan dirinya diayun-ayun dan dibawa angin, entah ke mana. Terbawa terbang tinggi, menjauh, tinggi menjauh, tinggi menjauh, entah ke mana dalam udara yang menjelma dingin.
Jakarta, 2011

0 komentar: